Tagar Black Lives Matter Berusia 17 Tahun Sudah

The Retreat at Twin Lakes adalah kompleks rumah tapak berukuran 130 m2, hunian kelas menengah AS. Letaknya di Sanford, kota berpopulasi 50an ribu penduduk di Florida bagian tengah.

Februari 2012, orang-orang The Retreat at Twin Lakes sedang cemas oleh sejumlah kasus pencurian dan pembobolan rumah.  George Zimmerman, lelaki berusia 28 tahun menjadi lebih waspada. Investigator penipuan asuransi ini menjabat Ketua Keamanan Lingkungan di kompleks itu.

Pada 26 Februari, Zimmerman melihat seorang remaja kulit hitam berjalan ke arahnya. Ia tidak pernah melihat bocah lelaki itu sebelumnya.

Remaja itu Trayvon Martin, siswa SMA di Miami, berusia 17 tahun. Martin sedang berada di Sanford untuk mengunjungi ayahnya. Ayah Martin tinggal di rumah tunangannya di sini.

Martin dalam perjalanan pulang membeli Skittles dan jus. Ia hendak kembali ke rumah calon ibu tirinya saat dihentikan Zimmerman.

Sebelumnya Zimmerman sudah menelpon kantor polisi, mengabarkan ada orang baru mencurigakan di kompleks. Polisi minta Zimmerman biarkan saja tetapi Zimmerman tidak memedulikan anjuran itu.

Tidak ada yang menyaksikan apa yang terjadi. Orang-orang hanya mendengar letusan senjata. Lalu, saat orang-orang berhamburan menuju asal suara, mereka menemukan tubuh Martin sudah tergeletak. Tewas.

Zimmerman menembak Martin dengan alasan membela diri. Orang-orang dan polisi percaya sebab hidung dan kepala Zimmerman berdarah.

Polisi hanya memeriksa Zimmerman, mengajukan sejumlah pertanyaan tentang kronologis kejadian, kemudian membebaskannya.

Di Florida memang ada Perda yang membolehkan orang membela diri dengan membunuh orang yang dianggap mengancam keselamatannya. Perda ‘Stand Your Ground’ namanya. Jika  Zimmerman merasa Martin mengancam keselamatannya,  Zimmerman boleh menembak Martin sekalipun Martin tidak bersenjata.

Tetapi orang tua Martin tidak puas. Mereka tahu Martin bukan anak nakal. Ia sama sekali tidak punya catatan kriminal. Kenyataan bahwa Zimmerman peranakan kulit putih dan hispanik membuat mereka curiga jika penembakan terhadap Martin berlatar belakang sentimen rasial. Ternyata itu pula kecurigaan banyak orang.

Maka merebak serangkaian aksi unjuk rasa memprotes ketidakadilan dalam kasus Martin. Para pemrotes mengangkat problem prasanka rasial dan Perda  Stand Your Ground sebagai biang kematian Martin.

Persoalan ini berkembang jadi polemik nasional  yang menarik perhatian Presiden Barrack Obama. Pada 23 Maret, dua hari setelah ratusan hingga ribuan orang di berbagai kota berunjuk rasa dalam aksi bertajuk “Million Hoodie March”, Presiden Barrack Obama pun berseru menyindir penegakan hukum yang bias sentimen ras. “Kalau saya punya putra, ia akan tampak seperti  Trayvon,” kata Obama.

Aksi menuntut keadilan dalam kasus Trayvon Martin bertajuk “Million Hoodie March” karena Martin mengenakan baju hoodie saat tewas. Pada 1970an, hoodie mendapat stigma simbol kejahatan. Hoodie dianggap simbol budaya hiphop yang identik dengan pelaku gravity action dan penodong di jalan (stick-up kids).

Nah, banyak orang berpandangan, Zimmerman mencurigai Martin sebagai penjahat dan menembaknya karena dua stereotipe: bocah kulit hitam dan mengenakan hoodie.

Setelah rangkaian aksi unjuk rasa, demo berjilid-jilid, pada April 2012, Gubernur Florida menunjuk jaksa khusus untuk menangani kasus penembakan Martin. Jaksa mendakwa Zimmerman melakukan pembunuhan tingkat dua.

Setelah lebih dari setahun, Juni 2013 kasus pembunuhan Martin disidangkan. Pada 13 Juli, para juri — 6 perempuan — berunding dan mengambil keputusan. Hasilnya? Zimmerman dinyatakan tidak bersalah dan bebas.

Alicia Garza, warga Oakland, California merasa sangat sedih mendengar keputusan tersebut. Ia menulis status di facebook, menyesali ketidakadilan di Amerika Serikat yang menurutnya penuh bias kebencian rasial sehingga Martin yang sejatinya korban malah dipersalahkan. Dalam posting-an facebooknya terdapat frasa “”Black lives matter“.

Teman Garza, Patrice Cullors, seorang community organizer membaca ungkapan sedih sahabatnya. Cullor mengomentari status facebook Garza dengan tagar #BlackLivesMatter. Inilah momen kelahiran tagar #BlackLivesMatter.

Senin, 13 Juli 2020, tagar #BlackLivesMatter berusia 17 tahun. Sepanjang tahun-tahun berlalu semenjak tercipta, slogan Black Lives Matter digunakan dalam berbagai unjukrasa. Ini adalah slogan gerakan anti-rasialisme terhadap warga kulit hitam yang paling populer setelah ‘Black Power‘ di era Malcom X dan Marthin Luther King Jr.

Kekuatan Kata-Kata.

Kita mengetahui dalam sejarah, sejumlah slogan yang punya kekuatan mempersatukan dan menggerakkan orang-orang untuk terlibat memperjuangkan perubahan kehidupan menjadi lebih baik, lepas dari penindasan dan penghisapan.

Di tingkat dunia, misalnya slogan “El pueblo unido jams ser vencido” yang diterjemahkan sebagai ‘rakyat bersatu tak bisa dikalahkan’ dan digunakan dalam unjukrasa buruh dan mahasiswa sejak pra-1998 dan terus hingga kini.

Sejatinya slogan ini berasal dari lagu ciptaan Sergio Ortega, tokoh gerakan aliran musik Chile baru ‘Nueva Cancion Chilena’.

Ada pula slogan yang berasal dari kata-kata revolusioner Amerika Latin, Ernesto ‘Che’ Guevara, “Hasta la victoria siempre!” ‘Maju terus menuju kemenangan’. Kalimat ini berasal dari penutup surat perpisahan Che Guevara kepada Fidel Castro.

Pada 1965, Che Guevara yang saat itu menjabat Menteri Kesehatan (atau mungkin Menteri Perindustrian) — saya lupa, tetapi Che menjabat menteri di dua kementerian itu — memutuskan meninggalkan kekuasaan yang sudah susah payah mereka rampas dari diktator perliharaan Amerika Serikat, Batista, untuk pergi membantu revolusi rakyat di Kongo dan Bolivia.

Dari masa gerakan sipil Amerika Serikat, 1960an, ada slogan “Make love not war.” Slogan ini disuarakan sebagai ekspresi penentangan terhadap perang imperialis AS terhadap Vietnam.

Tidak jelas siapa penciptanya, sejumlah orang mengklaimnya. Media Jerman, Deutsche Welle menyebut nama Gerald Holtom sebagai orang yang mula-mula menggunakan slogan ini dalam demonstrasi anti nuklir pada 1958.

Tetapi slogan  “make love not war” populer di kalangan pegiat gerakan sipil AS 1960an setelah pasangan laki-bini aktivis radikal  Penelope dan Franklin Rosemont mencetaknya dalam selebaran yang dibagikan dalam aksi damai Hari Ibu 1965.

John Lenon lewat lagunya, “Mind Games” (1973) dan Bob Marley, “No More Trouble” (1973) membuat slogan ini mendunia.

Pada 2011 ada pula slogan “We are the 99%” yang dipopulerkan gerakan Occupy Wall Street.

Di Indonesia, ada slogan “Sama rata sama rasa” yang berasal dari puisi Mas Marco Kartodikromo, dimuat koran Sinar Djawa pada 10 April 1918. Puisi itu Mas Marco tulis ketika dipenjara Belanda. 

Bung Karno mengunakan istilah ini dalam buku Mentjapai Indonesia Merdeka (1933) yang ia tulis sebebasnya dari penjara Sukamiskin dan sebelum dibuang ke Ende. [Tentang ini baca “Socio-demokrasi, Ketika Soekarno Mendahului Badiou, Zizek, Laclau, dan Mouffe“]

Di masa Revolusi Agustus 1945 ada slogan “Boeng, ayo boeng!”  Slogan ini disumbangkan Chairil Anwar kepada pelukis Afandi yang mendapat tugas dari Bung Karno untuk membuat poster penyemangat perjuangan.

Lukisan sudah dibuat sesuai arahan Sukarno. Pelukis Dullah yang jadi modelnya. Tetapi Afandi dan S. Seodjojono kebingungan mau mengisi lukisan itu dengan kata-kata apa. Kebetulan Chairil muncul, Soedjojono segera melempar pertanyaan.

Chairil spontan menyahut, “Boeng, ayo boeng!” Kata-kata ini Chairil curi dari para pelacur Jakarta. Mereka kerap mengatakannya sebagai ajakan kepada calon pelanggan.

Haish. Patut dicurigai nih, si Bung Chairil. Kalau di masa kini, mungkin dirinya yang tertangkap bersama VA atau HH. Sedang bikin puisi tentunya, bukan apa-apa.

“Biarlah aku petani, menikam baji pada pertiwi / Bebaskan saja peluh tumpah, napas memburu binatang jalang / Gelinjang, geletar hebat teriring tetabuhan desah alam/ bla bla bla”

Di era reformasi 1998, populer slogan “Hanya satu kata, lawan!” Slogan ini berasal dari puisi Widji Thukul, seniman yang juga salah seorang pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Slogan era medsos sampah semua.

Di masa kini, hastag atau tagar di twitter itu pada dasarnya slogan. Setiap hari puluhan hastag diproduksi, menjadi populer sejenak lalu segera dilupakan.

Mengapa bisa demikian?

Apakah karena banjir informasi, longsor tagar sehingga tiada yang tersangkut di kepala khalayak?

Hemat saya bukan di sana problemnya. Hastag atau tagar-tagar politis itu tak membekas lama di kepala orang-orang karena bukan lahir dari kejujuran.

Tagar-tagar itu tidak sungguh mencerminkan keresahan rakyat, tidak lahir dari keresahan akar rumput. Tagar-tagar itu manipulatif, diproduksi divisi media konsultan-konsultan politik, disebarkan para buzzer. Isinya juga tidak lebih dari luapan kebencian (jika dikeluarkan kubu pengkritik rezim) atau ilusi (jika dilontarkan pendukung rezim).

Sudah begitu saja. Demikian. Semoga berkenan. Tabik.***

Catatan dan Sitasi:

  1. History.com Editors (10/7/2020). “The hashtag #BlackLivesMatter first appears, sparking a movement“.
  2. ____________ (12/11/2013) “Florida teen Trayvon Martin is shot and killed“.
  3. Elizabeth Flock (Washington Post, 22/2/2012). “Trayvon Martin ‘Million Hoodie March’: A short history of the hoodie“.
  4. Scoop.me (30/10/2019). “El Pueblo Unido: This song accompanies the protests in Chile“.
  5. Marxist.org. “Surat Selamat Tinggal Kepada Fidel Castro“.
  6. Deutsche Welle (21/2/2018) “‘Make Love, Not War:’ 60 Tahun Simbol Perdamaian“.
  7. Hasan Kurniawan (Sindo News, 11/1/2016) “Marco Kartodikromo dan Syair Sama Rata Sama Rasa“.
  8. DGI.or.id. “1945 | Poster “Boeng, Ayo Boeng”.

Leave a Reply