Aksi Sujud Risma versus Kata-Kata Achmad Yurianto

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersujud di kaki seorang dokter, dan sambil menangis minta maaf atas kekurangannya dalam memimpin Surabaya menghadapi Pandemi Covid-19.

Warganet segera saja terbelah. Banyak yang menyalahkan Risma karena aksi sujudnya, bahkan menyuarakan tuntutan agar Risma mundur saja. Jumlah yang membela aksi Risma tidak kalah banyaknya.

Mungkin sudah takdir negeri yang rakyatnya kebanyakan makan karbohidrat dan hanya membaca satu buku saja. Komentar-komentar warga di media sosial terjebak pada sensasi, bukan esensi. Aksi sujud Risma adalah sensasi. Esensinya terletak pada keluhan dokter-dokter.

Aksi sujud Wali Kota Tri Rismaharini dilakukan di tengah pertemuan dengar pendapat antara Pemerintah Kota Surabaya dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jawa Timur, Senin (29/6/22). Pertemuan itu membahas penanganan pandemi Covid19 di Surabaya.

Seorang dokter dari RSUD dr. Soetomo menyampaikan keluhan tentang banyak rumah sakit yang penuh dan sikap masyarakat Surabaya yang tidak patuhi protokol cegah penularan virus Corona.

Keluhan si dokter itulah yang memprovokasi Risma bersimpuh dan menangis minta maaf. Setelah ditenangkan para staf Pemkot Surabaya, Risma menjawab keluhan dokter tersebut.

Risma lantas bicara tentang buruknya koordinasi antara Pemkot Surabaya dengan RSUD dr. Soetomo. Ia menyinggung beberapa kali menawarkan bantuan kepada RSUD dr Soetomo, seperti Alat Pelindung Diri (APD) dan pemindahan pasien berlebih ke rumah sakit Pemkot, tetapi selalu ditolak.

Risma juga menyinggung soal wewenang terhadap RSUD dr. Soetomo yang berada di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Singgungan Risma tentang wewenang terhadap RSUD dr. Soetomo bisa mengungkit lagi perbincangan tentang serangkaian ketegangan Risma dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa.

Sejak Pandemi Covid-19 merebak di Jawa Timur, Risma dan Khofifah beberapa kali berselisih pendapat dan kebijakan. Misalnya ketika Khofifah menegur Risma yang hendak me-lock down Surabaya padahal wewenang pengusulan PSBB ada di tangan Gubernur Khofifah. Atau tentang cluster kasus pabrik rokok. Khofifah menuding Risma terlambat melaporkan ke Pemprov Jawa Timur.

Yang paling anyar adalah tentang mobil laboratorium keliling. Risma mengklaim mobil Lab PCR itu disumbangkan Satgas Covid-19 nasional atas komunikasi pribadinya dengan Doni Monardo. Khofifah malah menyerahkannya ke Tulungagung.[1]

Tetapi bukan itu hakikat prolemnya. Esensi masalah di balik aksi sujud Risma adalah problem kapasitas rumah sakit dan koodinasi antar-pemerintah.


Next: IRONIS: RSUD dr. Soetomo Overload, RS Bhakti Husada Justru Belum Terpakai

Leave a Reply