Bikin Cemburu, Spanyol Terapkan UBI, Akankah Indonesia Juga?

Pekan lalu hati saya dibakar cemburu terhadap orang-orang Spanyol. Tentu bukan karena tingginya kasus Covid-19 dan angka kematian di negeri Matador itu. Saya cemburu gara-gara kebijakan pemerintah Spanyol menerapkan UBI, Universal Basic Income.

Rasa cemburu bangkit saat membaca berita Forbes, “Spain To Roll Out Permanent Universal Basic Income ‘Soon’”.[1] Tambah berkobar-kobar kecemburuan itu saat membaca berita Catalan News beberapa jam kemudian, “Universal basic income to come into effect in Spain in May”.[2]

Jika benar akan berjalan Mei ini, Spanyol akan menyusul Iran, menjadi salah satu negara pertama yang menjalankan kebijakan Universal Basic Income secara nasional. Itu berarti, mulai bulan depan, setiap individu—tua, muda, kaya, miskin, ada pekerjaan pun pengangguran permanen—akan menerima uang setiap bulan, ditransfer pemerintah ke rekening mereka.

Menurut rencana, jumlah dana yang akan ditransfer pemerintah adalah 440 Euro atau sekitar 475 dolar AS per individu per bulan. Nilai itu hampir separuh upah minimum di Spanyol yang sebesar  950 Euro atau sekitar 1.032 dolar AS.[3]

Program ini bukan cuma melindungi 900,000 buruh Spanyol yang kehilangan pekerjaan selama pandemi Covid-19, tetapi juga seluruh penduduknya dari kondisi kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.

Universal basic income, ‘penghasilan dasar universal’ atau kerab disebut unconditional basic income adalah transfer langsung negara kepada setiap warga negara tanpa syarat.

Tujuannya agar warga negara dapat secara permanen dan kontinyu memenuhi kebutuhan dasarnya, tidak terganggu oleh kondisi kehilangan pekerjaan (akibat PHK atau berakhirnya masa kontrak kerja), kebangkrutan bisnis, atau sejumlah keterbatasan yang membuat warga negara tidak bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, minimal kebutuhan dasar seperti pangan dan tempat tinggal.

Dari mana asalnya ide Universal Basic Income?

UBI gencar diperbincangkan dan diperdebatkan dalam satu dekade terakhir. Ini terkait peralihan moda pengupahan, ketika banyak pekerjaan manusia akan diambil alih intelejensia buatan; dan banyak relasi pengupahan beralih menjadi kontrak non-permanen,  fitur utama revolusi industri 4.0.

Banyak orang akan kehilangan pekerjaan, kena PHK. Yang masih bekerja pun kehilangan keamanan kerja dan karir sebab pekerjaan tetap berubah menjadi casual job, nonpermanen ‘buruh kontrak’, bahkan jadi buruh outsourcing. Dampak lanjutnya, orang-orang kehilangan sumber pendapatan dan karenanya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup.

Salah satu jawaban yang disodorkan adalah penerapan universal basic income. Negara menjamin pemenuhan kebutuhan dasar orang-orang itu dengan mentransfer sejumlah uang yang dibutuhkan, minimal agar orang tetap bisa makan dan punya tempat tinggal.

Sebenarnya UBI bukan gagasan baru, sudah diperbincangkan jauh sebelum revolusi 4.0 mewujud.

Yuan Zheng, Marta Guerriero, dan Enrique Valencia Lopez yang menulis untuk UNDP Kantor China menarik gagasan ini hingga ke 1779, yaitu sejak dilontarkan Thomas Paine, seorang penulis Inggris.

Para ekonom konsultan UNDP di China ini benar. Pada 1779, Thomas Paine menerbitkan pamflet berjudul Keadilan Agraria—sudah selesai ditulis setahun sebelumnya.

Paine mengusulkan agar para tuan tanah hidup dari sistem bagi hasil pengolahan lahan mereka membayar sewa tanah (ground rent) kepada masyarakat. Pembayaran itu dianggap sebagai pajak tanah untuk membiayai hidup para lansia dan orang cacat, dan jumlah yang tetap untuk semua warga negara yang sudah dewasa.

Leave a Reply