Soal Kasus Vanessa Angel, Saya Sepakat Nikita Mirzani

Vannesa Angel, benarlah sudah, cantik itu luka. Sebab demikianlah ia dicemburui perempuan-perempuan yang tak punya cukup pesona menggauli seribu lelaki, namun tak tahu malu berbagi kasih, satu lelaki berempat, hanya karena dikawini resmi berdokumen lengkap.

Sebab demikian juga Vannesa jadi dambaan para lelaki, yang mungkin terlalu kere atau kelewat takut kepada istri dan satpol PP, sehingga biarlah sudah hasrat mereka tersalurkan dengan menertawakan kesialannya.

Ketika Vannesa terjerembap, riuh percakapan bikin bising, tak ada komentar yang menarik selain festival kemunafikan. Maka satu pekerja seks tergerebek adalah polemik nasional; sementara ratusan perempuan terpaksa melacur karena feminisasi kemiskinan bahkan tak cukup layak jadi statistik.

“Kok bisa 80 juta?” Para perempuan yang merasa diri cantik, menghabiskan jutaan tiap-tiap minggu untuk merias diri, mungkin gunjingkan Vannesa di ruang tunggu butiq mewah. Mereka tak habis pikir mengapa tak sekalipun pengusaha tambang atau pembalak hutan menawari mereka uang segitu. Andai seberuntung Vannesa, tak perlu sekali bobo, seumur hidup mengabdi pada si Om pembalak hutan pun mereka rela, terbang meninggalkan suami yang tak benar-benar kaya.

“Hih, tak bermoral!” Sekumpulan perempuan lain berarisan di beranda rumah mungkin turut pula berlomba-lomba menghakimi. Lalu penghakiman berlanjut, kepada perempuan-perempuan berbikini, perempuan-perempuan perokok, perempuan-perempuan peminum bir, perempuan-perempuan berbeda cara ibadah, perempuan-perempuan dari etnis-etnis yang lian, dan semua saja yang tak patut dalam standar mereka. Mereka pikir melacur itu lebih tak bermoral dibandingkan membenci orang yang berbeda keyakinan relijius, berbeda asal-usul nenek-moyang.

Para lelaki yang selalu ingin tampak saleh di depan kumpulannya, mengetik keprihatinan dalam status facebook dan twiter. Sepuluh menit berselang, mereka masuk kamar mandi dan merancap dengan foto Vannesa di genggaman.

Di antara tumpukan seliwaran reaksi atas kemalangan Vannesa, komentar paling cantik datang dari Nikita Mirzani. “Tapi gue malah jadi lebih murah dari Vannesa Angel, ya? … Kalau 500 juta gue ambil,” celotehnya.

Nikita mungkin becanda. Mungkin tak semahal itu. Tetapi sungguh, pernyataannya mengolok-olok kita, mencemooh kemunafikan, menertawakan kegirangan kita membincangkan kemalangan orang.

Nikita benar. Vannesa perempuan beruntung. Sekali masuk kamar, lebih dari cukup nafkahnya untuk setahun kehidupan orang biasa.

Tetapi banyak perempuan buntung, harus melayani setengah lusin lelaki tiap-tiap malam hanya demi di akhir bulan bisa mengirimkan seadanya kepada bapak-ibu di kampung dan buah hati tunggal yang ditinggalkannya bersama mereka.

Kita memang orang-orang aneh, mengutuk Vannesa namun mengidolakan lelaki yang minta Dewi Persik telanjang di keramaian publik di Bali. Anda tahukan, siapa itu?***

About Post Author

Om Gege

Kuli, tetapi (justru karena itu) sombongnya minta ampun. Sebab oleh keringat kamilah peradaban berderap.