Sinyal Bahaya di Balik Pernyataan Sri Mulyani

Bom Waktu

Konsumsi tidak selamanya dapat menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi.

Tanpa investasi kembali bergairah, tidak ada pembelian barang-barang modal baru, tidak ada pembelian tanah untuk membangun pabrik-pabrik, tidak ada pembukaan lapangan kerja baru yang menampung angkatan kerja yang terus dilahirkan.

Dampaknya akan kian banyak pengangguran, kian banyak orang tanpa daya beli. Keluarga-keluarga akan mengorbankan sejumlah item konsumsi mereka sebab bertambah banyak perut harus ditanggung tanpa pertambahan tangan yang berupah.

Pada titik ini, perekonomian berada di persimpangan.

Cabang pertama menuju ke arah pemulihan perekonomian, yaitu momentum yang entah oleh apa menggairahkan kembali kepercayaan pengusaha untuk kembali berinvestasi sebelum usaha yang sedang berlangsung telanjur gulung tikar. Saat itu, siklus bisnis akan kembali berputar.

Cabang kedua menuju kepada kebangkrutan. Utang-utang kartu kredit harus dilunasi, cicilan rumah telah jatuh tempo, tetapi orang-orang telah kehilangan kemampuan untuk membayar.

Apa yang didambakan sebelumnya sebagai bonus demografi ternyata berubah menjadi kutukan sebab orang-orang muda yang baru saja menceburkan diri sebagai bagian dari angkatan kerja baru tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.

The reserve army of proletariat telah membentuk piramida demografi membuncit di tengah. Alih-alih menjadi bonus demografi sebagaimana diharapkan (komponen tengah piramida yang membuncit itu menanggung hidup generasi tua dan generasi yang baru saja meneriakkan tangisan pertama keluar dari rahim ibunya) sebaliknya justru angkatan tua, para pekerja di masa senja yang harus menanggung hidup orang-orang muda yang jumlahnya jauh lebih besar.

Ketika jalannya sejarah perekonomian berbelok ke cabang kedua, tiada gula kebijakan yang mampu menawar pahitnya krisis. Utang-utang jatuh tempo, orang-orang tidak mampu membayar apalagi membeli barang-barang dengan utang baru.

Bank-bank akan menangisi tingginya non-performing loan yang segera berubah menjadi kredit macet. Gertakan preman-preman debt-collector tidak lagi efektif, sementara agunan sitaan menjadi sekedar onggok aset mangkrak tanpa bisa diuangkan. Kemudian… pabrik-pabrik gulung tikar.

Tidak sulit untuk merasa panasnya napas krisis sedang di belakang tengkuk kita.

Menolehlah ke AS.

Kebijakan-kebijakan Trump membuat ekonom-ekonom lugu melonggo kehilangan superhero karena perekonomian dan pemerintah AS tiba-tiba berubah dari panglima perang liberalisasi menjadi mendadak remaja lelaki yang baru kemarin tumbuh rambut di ketiak, mendadak introvert oleh tebaran jerawat, menutup pintu, jendela, dan tirai rapat-rapat agar terhindar dari lirikan gadis-gadis.

Khotbah-khotbah penuh percaya diri tentang keniscayaan globalisasi, tentang sangat penting dan bermanfaatnya ekonomi pasar bebas dunia tiba-tiba saja menjadi seperti bisikan hoax dari mulut ke mulut ibu-ibu kompleks tentang tetangga, perempuan single cantik yang meniduri suami orang. Serbaragu dan malu-malu namun tetap saja terus disebarkan.

Dosen-dosen ilmu ekonomi malu sendiri mendengar gaung hafalan mereka yang dilantangkan di ruang-ruang kelas bahwa ekonomi pasar bebas adalah satu-satunya yang masuk akal, adalah bukan saja tidak terhindarkan, tetapi juga wajib.

Para mahasiswa yang kritis akan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mencomooh ketololan pada profesor dan doktor yang telah membodohi generasi demi generasi dengan dongeng yang didiktekan negeri-negeri Barat dan Utara.

Di televisi, para ekonom yang mengisi dompetnya dari pos ABPN berkata, “Jangan kuatir, perekonomian Indonesia baik-baik saja.” Andai ilmu sihir itu sungguh ada, saya hanya ingin satu kemampuan saja: mendengarkan suara hati mereka tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi.***

__________

Published juga di Kompasiana.com/tilariapadika

Leave a Reply