Kisah Cinta Unik Sepasang Filsuf Marxis Eksistensialis [1]

Yang orang tahu tentang hubungan Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir hanyalah keduanya sepasang kekasih yang menjalin hubungan langgeng hingga maut memisahkan tetapi tanpa harus menikah (open relationship). Bagi orang awam, hubungan ini unik.

Rupanya keistimewaan hubungan Sartre-de Beauvoir belum terungkap semua. Setelah dirahasiakan selama 75 tahun, sebuah novel yang de Beauvoir tulis lima tahun setelah The Second Sex–magnum opus-nya yang terbit 1949–akhirnya diterbitkan versi berbahasa Prancisnya pada Oktober 2020, sementara versi bahasa Inggris akan terbit September 2021 mendatang.

Novel tersebut mengungkap keunikan lain relasi Sartre – Beauvoir yang selama ini tertutup rapat dari publik.

Namun, sebelum menggosipkan kisah cinta pasangan masyur ini, ada baiknya kita mengingat lagi siapa Sartre dan Beauvoir, terutama pemikiran dan aksi politik mereka. Ini penting sebab percintaan keduanya merupakan manifestasi aliran filsafat mereka, dan aliran filsafat mereka adalah satu tarikan napas dengan garis politik yang mereka jalani.

1. Jean-Paul Sartre

Sartre boleh dikatakan merupakan tokoh terpenting eksintensialisme. Itu karena,  pertama, sekalipun eksistensialisme telah berkembang sebelum Sartre—seperti Kierkegaard dan Heidegger–, istilah eksistensialisme lahir sebagai label terhadap pemikiran Sartre. Menurut Thomas Flynn (2006), istilah ini dicetuskan Gabriel Marcel untuk melabel karya-karya Sartre. Marcel sendiri seorang eksistensialis yang lebih senang menyebut aliran pemikirannya sebagai neo-socratic.

Hal lain yang membuat Sartre sangat penting adalah usahanya membangun irisan Marxisme dan Eksistensialisme.

Mula-mula Sartre seorang eksistensialis semurni-murninya, bertentangan 180 derajat dengan Marxisme. Karya-karya awalnya, seperti Being and Nothingness (1943) dan Materialism and Revolution (1947) dihadirkan sebagai perlawanan terhadap Marxisme.

Dalam karya-karya awal, Sartre menyatakan, kebebasan kreatif manusia tidak boleh dikorbankan atas nama nilai-nilai yang lebih tinggi, seperti kelas sosial (menyerang kaum Komunis) ataukah Tuhan (menyerang Gereja Katolik). Pandangan tersebut segera mengundang reaksi balik Komunis pun Katolik. Pandangan Sartre dituding sebagai reinkarnasi individualisme borjuis dan sama sekali tidak sensitif terhadap tuntutan keadilan sosial yang dirasakan oleh masyarakat Eropa yang sedang dilanda perang.

Peralihan Sartre dari eksistensialis murni menjadi seorang yang menerima Marxisme kontradiktif dan membingungkan. Banyak yang menulis penerimaan Sartre terhadap Marxisme—dan kemudian dianggap komunis terkemuka Prancis dan dalam periode cukup panjang mengagumi Partai Komunis Soviet–bermula saat dirinya terlibat perlawanan terhadap Nazi Jerman yang menduduki Prancis. Sebelumnya (1940-1941), Sartre sempat menjadi tawanan perang Nazi.

Dalam wawancara dengan Pierre Victor (nama pena Benny Levy) pada 1972, Sartre bercerita, pada 1936 ia masih seorang intelektual liberal. Pada 1939, sekalipun belum benar-benar terjun berpolitik—masih sebatas menulis artikel politik radikal–, Sartre akui telah memiliki ‘perfect sympathy’ terhadap orang-orang kiri. Adalah perang yang telah membuka mata nalar intelektual liberalnya.

Pada 1941, Sartre bersama sejumlah intelektual seperti Simone de Beauvoir, Maurice Merleau-Ponty, Desanti dan beberapa intelektual muda Prancis lainnya mendirikan Socialisme et Liberté, sebuah grup perlawanan terhadap Jerman. Grup itu tidak berusia lama dan tidak banyak terlibat aktivitas perlawanan.

Menurut Sartre, ia pertama kali terlibat kerja bersama—bukan menjadi anggota—Partai Komunis Prancis (PCF) saat 1943. Saat itu Sartre diminta turut menulis dalam Les Lettres Françaises (“The French Letters”) majalah underground (didirikan 1941) yang menyerukan perlawanan terhadap Jerman. Pada periode selanjutnya—hingga sekitar 1970an, Les Letters Francaises menjadi majalah corong Uni Soviet dan Partai Komunis Prancis.

Keterlibatan Sartre di dalam perjuangan melawan invasi Jerman memang lebih banyak dalam dunia tulis-menulis. Dalam hal ini Sartre kalah heroik dibandingkan koleganya, kelak jadi lawan debatnya, Albert Camus yang terlibat langsung dalam perjuangan klandestin di lapangan.

Yang kontradiktif adalah sekalipun sudah berjuang bersama PCF, karya-karya intelektual Sartre masih sangat kental dengan eksistensialisme. Pada 1943 ia menerbitkan Being and Nothingness yang menyerang bukan saja komunis ortodoks tetapi juga Marxisme sebagai landasan filosofisnya.

Pada 1945, Sartre bersama Beauvoir dan Merleau-Ponty, serta sejumlah nama lain mendirikan Les Temps modernes (Modern Times), jurnal yang menyuarakan pemikiran politik radikal di Prancis. Artikel-artikel awal di Les Temps modernes bersifat percampuran antara eksistensialisme murni yang menyerang Marxisme, terutama artikel-artikel Sartre, seperti Materialism and Revolution (1947), dengan artikel-artikel yang mencoba menggabungkan Marxisme dan eksistensialisme, seperti karya-karya Merleau-Ponty dan Beauvoir. Jangan salah, Merleau-Ponty dan de Beauvoir mendahului Sarte dalam menggabungkan eksistensialisme dengan Marxisme. Di masa-masa selanjutnya, jurnal ini menjadi benteng pemikiran marxisme eksistensialis.

Pertentangan antara politik radikalnya dengan pemikiran idealisnya menjadi sebab pertikaian Sartre dengan para pemikir Komunis Prancis, terutama di masa pasca-pembebasan prancis. Terbitan-terbitan PCF—terutama Les Lettres Françaises dan Action menerbitkan artikel-artikel yang menggupas kelemahan eksistensialisme Sartre.

Selain melawan mantan kawan-kawannya di Socialisme et Liberte yang sudah masuk PCF, seperti Dominique Desan dan Jean Kanapa, Sartre juga harus melawan pemikir dan praktisi komunis sekaliber Henri Lefebvre. Pemikiran Henri Lefebvre inilah yang dikemudian hari melahirkan pemikir besar David Harvey.

Menurut David Drake (2010), era 1944-1948 bagi Partai Komunis Prancis adalah masa serangan anti-eksistensialis terhadap Sartre. Selain karena pandangan eksistensialisnya, permusuhan juga diprovokasi oleh keterlibatan Sartre—bersama Simone de Beauvoir, Albert Camus, André Breton, dan Marleau-Ponty–di dalam RDR (Rassemblement démocratique révolutionnaire). RDR adalah organisasi politik kiri yang baru didirikan oleh para penganut Komunis-Troskyist seperti David Rousset, Jean Rous dan Gérard Rosenthal. Orang-orang ini adalah mantan petinggi Partai Sosialis Prancis. Mereka membangun RDR sebagai kekuatan politik yang tidak berkiblat ke Moscow (bertentangan dengan Partai Komunis Prancis) dan tidak pula Washington (bertentangan dengan tendensi faksi dominan di Partai Sosialis Prancis).

Hubungan Sartre dengan PCF baru membaik pada 1950. Bermula ketika Sarte menolak mendukung kampanye David Rousset melawan kamp konsetrasi (Gulag) di Uni Soviet. Sartre berpandangan, kampanye Rousset kontra-revolusioner, hanya akan menguntungkan sayap kanan dan Amerika Serikat. Tetapi diam-diam Sartre mendukung editorial Les Temps modernes-–tampaknya ditulis Marleu-Ponty—yang mengecam Gulag.

Selanjutnya, 1951, Sartre berkampanye untuk pembebasan Henri Martin, pelaut Komunis yang dipenjara karena berkampanye menentang perang di Indocina. Semenjak itu hingga periode 1956, Sartre menjadi simpatisan (fellow traveler) PCF. Sebagai pendukung komunisme di bawah payung Comintern, Sartre diundang PKUS—sejak pertengahan 1920an harus disebut Komunis Stalinis—untuk mengunjungi Uni Soviet pada 1954. Saking besar dukungannya terhadap komunisme saat itu, pada 1952 Sartre pernah menyebut para penolak komunisme di Eropa dan Amerika Serikat sebagai “Every anticommunist is a dog.” (Carman, 2008, hal. 152)

Perpecahan dengan Para Sahabat Dekat.

Hubungan intim Sartre dengan PCF dan PKUS menghancurkan hubungannya dengan sejumlah sejawat dan kawan dekatnya. Karena tidak tegas mengkritik keterlibatan Uni Soviet di dalam perang Korea, Merleau-Ponty menjuluki Sartre ultrabolshevism. Beauvoir membalas Marleu-Ponty dengan label pseudosartrean. Yang jelas tak ada yang lontarkan cemo’ohan rasis seperti evolusi belum selesai atau menyamakan dengan monyet.

Merleau-Ponty sejak awal adalah seorang eksistensialis sekaligus Marxis, serta sejak mula-mula pula sudah berhubungan dengan PCF. Menurut James Millier (1982), “Penerapan eksistensialisme yang paling bermanfaat bagi Marxisme terjadi dalam filsafat Maurice Merleau-Ponty” (hal 168). Miller (1976), menyatakan Merleau-Ponty sudah menjadikan materialisme historis sebagai referensi sejak menulis Phenomenology of Perception pada 1945—yang merupakan opus magnumnya. Itu masa ketika Sartre masih memusuhi Marxisme. Merleau-Ponty yang mempengaruhi Sartre, baik untuk memahami Marxisme pun terlibat di dalam partai komunis.

Akan tetapi Merleau-Ponty kemudian (1950) memutuskan hubungan dengan PCF setelah mengetahui–tampaknya dari kampanye David Rousset–kondisi gulag, penjara yang menyerupai kamp konsentrasi Jerman, tempat Stalin menghukum lawan-lawan politiknya.

Keterlibatan Uni Soviet di dalam perang Korea menambah antipati Merleau-Ponty. Ia memandang intervensi Uni Soviet di dalam perang Korea tidak ada kaitannya dengan kepentingan perjuangan proletariat internasional melainkan semata-semata ekspansi sebagaimana kepentingan perang imperialis. Maka Merleau-Ponty mengajak kawan-kawannya untuk memutuskan hubungan dengan PCF (representasi Comintern di Prancis). Ketika Sartre dan lain-lain menolak ajakan itu, Merleau-Ponty patah hati. Ia menarik diri dari politik, menjauhi Marxisme, menjadi liberal, kian kental dengan fenomenologis, dan jadi lebih berbau Weberian.

Perpecahan Sartre dengan Camus juga terjadi di masa ini tetapi berbeda konteks dari kasus Sartre versus Merleau-Ponty.

Sejak awal Camus anti-marxisme. Banyak yang menyatakan Camus seorang sosialis liberal atau lebih tepat seorang anarkis. Mungkin karena semangatnya yang anti-negara. Dalam The Rebel dan beberapa karya lain, Camus menujukan pemujaan terhadap Bakunin.

The Rebel memang mengekspresikan penentangan keras terhadap Negara, sekalipun itu Negara yang dihasilkan oleh revolusi yang mula-mula ditujukan untuk pembebasan manusia. Misalnya pada bagian “State Terrorism and Irrational Terror”, Camus membukannya dengan kalimat “All modern revolutions have ended in a reinforcement of the power of the State. 1789 brings Napoleon; 1848, Napoleon III; 1917, Stalin; the Italian disturbances of the twenties, Mussolini; the Weimar Republic, Hitler.” (hal 176).

Namun jika dibaca lebih cermat, saya berkesimpulan, alih-alih mewakili pandangan anarko, The Rebel lebih tampak sebagai manifesto keputusasaan seorang nihilis. Camus menyatakan bahwa rebellion adalah perjuangan berulang dan tanpa akhir melawan Negara yang tercipta oleh revolusi. Pengulangan terus terjadi karena tidak pernah akan ada kondisi masyarakat dengan kebebasan mutlak—akhir sejarah dalam ‘janji kenabian Marxisme’—atau dengan kedamaian absolut—janji kenabian Kristen–. Bagi Camus, kedamaian dan kebebasan selalu dalam kondisi kontestasi.

Maka “Komune melawan Negara, masyarakat konkret melawan masyarakat absolut, kebebasan yang disengaja melawan tirani rasional, akhirnya individualisme altruistik melawan penjajahan massa, … kontradiksi yang mengungkapkan sekali lagi oposisi tanpa akhir dari moderasi terhadap ekses yang telah menghidupkan sejarah Barat sejak zaman dunia kuno.”

Jadi esai-esai dalam The Rebel merupakan pengulangan pesan absurdisme serupa dalam kumpulan eassai 10 tahun sebelumnya, The Myth of Sisyphus.

Sisipus adalah karakter dalam mitologi Yunani. Ia dihukum menggulingkan batu besar ke atas bukit. Tetapi oleh kekuatan alam, batu itu kembali menggelinding ke dasar setiba di puncak. Sisipus mengulangi usahanya, berulang selama-lamanya.

Dengan pandangan seperti ini, perjuangan untuk mewujudkan tatanan yang lebih adil dianggap kesia-siaan sebab penindasan akan kembali terjadi. Inilah sikap absurdisme, haluan sejati filsafat Camus, pencampuran antara eksistensialisme Kierkegaard dengan nihilisme Nietzsche dan Heidegger.

Sedikit catatan, pemikiran Camus inilah yang jadi landasan Goenawan Mohamad cs dalam menyusun Manifesto Kebudayaan. Jadi jangan heran jika Goenawan dan orang-orang Manikebu sering absurd. Heuheu. Baiklah, lupakan orang-orang Soska itu.

The Rebel mendapat ulasan sangat buruk di Les Temps modernes. Diceritakan Schweikart (2018), merespon ulasan itu, pada 30 Juni 1952, Camus menulis kepada redaktur Les Temps modernes. Bukan kepada Francis Jeanson, penulis muda pemilik ulasan, tetapi kepada Sartre, sang direktur.

“Aku lelah melihat diri sendiri—apalagi lagi melihat kawan-kawan mantan militant yang tidak pernah menolak perjuangan pada massanya—kini tanpa henti menerima pelajaran tentang keberhasilan dari para kritikus yang tidak pernah melakukan apa pun selain mengubah kursi teater mereka di arah sejarah.”

Pada jurnal terbitan Agustus, Sartre membalas surat itu secara terbuka.

“…saya akan menjawab: tanpa amarah, tetapi, untuk pertama kalinya sejak saya mengenal Anda, tanpa memotong kata-kata saya. Campuran melankolis, kesombongan dan kerentanan di pihak Anda selalu menghalangi orang untuk memberi tahu Anda kebenaran yang tidak ternoda.”

Semenjak balasan itu, Sartre dan Camus tidak lagi bertegur sapa. Tetapi perdebatan keduanya–tentang kebebasan dan kedamaian, tentang perjuangan kelas, tentang jalannya sejarah, dan tentang pada kondisi yang bagaimana kekerasan itu dibenarkan–tetap berlangsung.

Pada 1954, pertarungan antara Sartre dan Camus menemukan panggung baru: perang kemerdekaan Aljazair.

David Drake (1999) mengulas, Sartre berpandangan bahwa ketertindasan rakyat Aljazair bersumber pada kolonialisme Perancis. Kolonialisme tidak bisa direformasi. Kolonialisme hanya mungkin dimusnahkan. Tetapi perjuangan menghapuskan kolonialisme bukan cuma beban di pundak rakyat Aljazair melainkan pula merupakan tugas sejarah rakyat Prancis. Hubungan yang humanis antara dua bangsa hanya akan terjadi ketika Prancis dibebaskan (dari kapitalisme) dan Aljazair merdeka dari kolonialisme Prancis.

Sebaliknya, Camus menghendaki Aljazair tetap jadi bagian dari Prancis. Camus percaya bahwa solusi terbaik adalah asimilasi antara orang-orang Aljazair dengan orang-orang Prancis. Artinya Aljazair tetap jadi bagian dari Prancis, dan pemerintahan Prancis dituntut untuk menciptakan kondisi hidup manusiawi bagi penduduk asli Aljazair. Sikap ini tampaknya berlatar belakang oportunisme borjuis kecil Camus. Ia adalah warga Prancis berdarah Aljazair.

Sedikit catatan, sikap Sartre yang menyerukan perjuangan aktif rakyat Prancis untuk mengakhir kolonialisme di Aljazair dan untuk meruntuhkan kekuasaan borjuis kolonialis di negeri sendiri menyerupai artikel Lenin pada April 1916, “The Socialist Revolution and the Right of Nations to Self-Determination“. Lenin katakan,

“The proletariat must demand the right of political secession for the colonies and for the nations that “its own” nation oppresses. Unless it does this, proletarian internationalism will remain a meaningless phrase; mutual confidence and class solidarity between the workers of the oppressing and oppressed nations will be impossible; ….”

Perpecahan dengan Uni Soviet Serta Dukungan Terhadap Kuba dan Marxisme.

Hubungan dekat Sartre dengan PKUS mulai retak ketika Tentara Merah menginvasi Hungaria (1956) dan betul-betul berakhir saat Uni Soviet dengan intervensi militer menghentikan reformasi yang dilakukan pimpinan komunis Cekoslovakia, Alexander Dubcek pada 1968 . Periode singkat reformasi Dubcek dikenal sebagai Prague Spring.

Sekalipun hubungannya dengan PKUS telah berakhir, secara pemikiran Sartre telah membaptis diri sebagai Marxist, bahkan komunis. Itu dilakukannya dengan menerbitkan The Critique of Dialectical Reason pada 1961. Melalui kitab esai filosofis ini, Sartre menyatakan eksistensialismenya sebagai cabang dari Marxisme, sekaligus mengklaim menyelamatkan Marxisme dari ‘lazy dogmatism’.

Menurut Sartre, intensi tiap-tiap agen tidak cukup hanya dijelaskan dengan sudut pandang kepentingan objektif (misalnya kepentingannya sebagai anggota kelas sosial) tetapi harus dilihat pula sejarah individual. Intensi individu berperan besar terhadap fenomena sosial.

Setahun sebelum menerbitkan The Critique of Dialectical Reason, Sartre dan Beauvoir mengunjungi Kuba, berjumpa Fidel Castro dan Che Guevara dan tokoh-tokoh revolusi Kuba lainnya. Sartre memuji revolusi Kuba. Ia katakan, “The regime produced by the Cuban Revolution is a direct democracy,” dan bahwa “The Cuban Revolution is a real revolution.” (Rowlandson, 2018, hal. 6).

Sartre dan de Beauvoir bertemu Che Guevara di Kuba [inkgua-digital.com]

Pro-Kontra Penyatuan Eksistensialisme dengan Marxisme.

Tentu saja klaim mendamaikan eksistensialisme dan marxisme memantik reaksi pro-kontra di kedua kubu. Di kubu eksistensialis, Erick Fromm menerbitkan Marx’s Concept of Man. Di sana ia menyatakan “… Marx’s philosophy constitutes a spiritual existentialism in secular language….” (hal. 3). Sebenarnya Erick Fromm tidak dalam posisi membela Sartre sebab The Critique of Dialectical Reason dan Marx’s Concept of Man terbit di tahun yang sama, dan penekanan keduanya berbeda.

Tiga dekade sebelum Sartre, upaya menarik sintesis dari eksistensialisme dan Marxisme sudah coba dilakukan Herbert Marcuse. Berkebalikan dari Sartre, Marcuse bergerak dari Marxisme ke eksitensialisme (Lihat Wolin, 1991).

Penolakan paling besar terhadap klaim Sartre datang dari kubu Marxist. Misalnya George Novack, dalam “Marxism Versus Existentialism” memustahilkan penyatuan eksistensialisme dengan Marxisme, baik dalam filsafat pun politik. “But let not the two be intermixed and confused. Their mismating can produce only stillborn offspring, whether in philosophy or in politics.”

Selain Novack, saya kira pemikir besar Marxist yang juga menolak klaim Sartre adalah George Lukacs. Saya memang tidak menemukan essai Lukacs yang mengomentari klaim penyatuan eksistensialisme dan Marxisme. Tetapi jika membaca perdebatan keras Lukacs dengan Sartre di masa Sartre belum mendapat hidayah, Lukacs akan menolak penyatuan tersebut.

Di dalam essay 1948, “Existentialism” Lukacs mengulas eksistensialisme sebagai tidak lebih dari wajah baru idealism, wajah yang dibutuhkan untuk kembali bangkit dari kekalahannya. Dan menurut Lukacs, idealisme dan materialism (Marxisme) tidak mungkin bisa bersatu.

“Is there any room for a “third way” besides idealism and materialism? If we consider this question seriously, as the great philosophers of the past did, and not with fashionable phrases, there can be only one answer, “No.”” (Lukacs dalam “Existentialism”, dalam Marxism and Human Liberation, hal 245).

Lalu bagaimana saya melihat hubungan antara eksistensialisme dengan Marxisme?

Dalam cerpen “Lalong” yang dimuat dalam majalah sastra yang dikelola anak-anak Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, saya membuat perumpamaan tentang musik dan tarian.

“Ibarat musik dan tari. Hidup itu bukan seperti tarian tradisional nenek moyang kita, yang sudah pakem dengan aturan-aturannya. Hidup itu lebih menyerupai berjoget di nightclub. Orang-orang bergerak seturut beat, tetapi tetap bebas memilih gaya…”

Ya, lingkungan sosial adalah musik, yang sebagaimana Marx katakan, lingkungan sosial yang memengaruhi kesadaran seseorang, bukan sebaliknya. Tetapi sebagaimana menari, manusia sebagai penari memiliki otonomi relatif. Dalam ritme yang sama, orang bisa menari dengan gaya yang berbeda-beda.

Baiklah, tentang Sartre pribadi kita cukupkan di sini. Bagian selanjutnya, tentang de Beauvoir dan kisah cinta mereka dibahas di bagian selanjutnya.