Pasar Hilang, Sebagian Diri Melenyap

Bukalah buku sejarah perkotaan dan akan kita temukan jika kota-kota di Eropa berkembang dari pasar, tempat bertemu antara penduduk di dalam benteng dengan petani yang tinggal di pencar mukim sekitar benteng untuk bertukar hasil produksi.

Lihatlah sejarah kota-kota di pedalaman Jawa, pasar rakyat selalu ada, sama pentingnya dengan keraton dan alun-alun. Sebagian besar kota-kota pesisir di Indonesia adalah perkembangan dari pasar-pasar rakyat di daerah perlintasan atau pelabuhan.

Dengan demikian, jika tugu atau monumen cenderung hanya menyimpan kenangan pada peristiwa tertentu, pasar rakyat justru menyimpan kenangan panjang perjalanan sejarah masyarakat kota, dimulai sejak kota itu embrio.

Dalam artikel sebelumnya, “Hari Pasar Rakyat: Mengapa Harus Repot” saya menyampaikan angka-angka hilangnya banyak pasar tradisional, berganti menjadi bangunan lain. Sebabnya bisa karena digusur oleh pemerintah atau mati dengan sendirinya, ditinggalkan para pedagang dan pembeli karena kalah bersaing dengan pusat-pusat perbelanjaan ritel modern yang menjamur mengepungnya.

Pasar Baru Jakarta 1930 | Sumber: old-indische.com

Kini bayangkanlah ketika rumah kita terbakar, seluruh potret dan parabot yang menghubungkan (kenangan) kita dengan masa lalu, dengan orang tua, kakek-nenek, dan kerabat –yang mungkin telah tiada– musnah mengabu. Rumah orang tua, bahkan kampung tempat tinggal mereka, juga tempat lahir kita telah tergusur, berganti bendungan atau kompleks pabrik misalnya.

Bayangkan sulitnya mengenang kisah-kisah berhikmah, petuah-petuah, kenangan-kenangan mengharukan. Bayangkan susahnya menceritakan itu kepada anak-cucu kita. Sebagian diri kita, identitas kita, hilang bersama api yang membakar, bersama buldoser yang menggusur, lenyap di balik bangunan-bangunan baru.

Saya ingat dua dekade lalu, ketika melewati kawasan Kampung Solor, pusat perbelanjaan tertua di Kota Kupang, terkadang saya sempatkan diri masuk ke kawasan pasar rakyat, Pasar Solor di balik deretan pertokoan. Saya melakukannya untuk mengenang masa kecil, ketika ibunda menggandeng erat lengan saya untuk berbelanja ikan, sayur, dan beragam pangan. Saat itu ayah melanjutkan pendidikan di Jawa.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bertambah karena beban dua dapur terpisah, ibunda menjajakan ikan goreng kepada pelajar penghuni asrama yang sekompleks dengan rumah kami. Momen mengunjungi pasar Solor mengingatkan saya pada nilai keuletan, keteguhan menghadapi kesulitan hidup, dan tentu saja cinta hangat sang bunda pada anak dan suaminya.

Pasar Solor juga merupakan monumen hidup dari sejarah perlawanan rakyat Kota Kupang terhadap kolonialisme. Pada era 1930an, di sana Christian Pandi pernah mengadakan pemogokan menentang kerja paksa dan pajak yang dibebankan pemerintah kolonial Belanda. Pasar Solor juga mengingatkan akan kerja sama orang-orang Pulau Solor dengan orang-orang Helong di Kupang dalam upaya melawan kehadiran Portugis.

Bagi warga muslim Kota Kupang, Pasar Solor merupakan pengingat masuknya islam. Pada abad ke-15, Islam masuk di Pulau Solor melalui ulama Palembang, Syahbudin bin Salman Al Faris yang kemudian menjadi Sultan Menanga. Pada awal 1800an, orang-orang Solor muslim tiba di Kupang, membangun pemukiman, mendirikan masjid, dan berdagang di lokasi yang kemudian berkembang menjadi Pasar Solor.

Kini lebih dari dua dekade sudah Pasar Solor tergusur pemerintah kota. Kenangannya tidak tersisa bahkan sekedar serpih pada memori google. Jika mengetik kata kunci Pasar Solor, yang akan muncul adalah pusat kuliner rakyat Kampung Solor  yang baru berkembang pada tahun 2000an di lokasi yang berbeda.

Pasar Solor melenyap, saya  kehilangan kenangan akan masa kanak-kanak, kehilangan sebagian diri. Demikian pula (masyarakat) Kota Kupang kehilangan gerbang menuju sebagian sejarah masa lalunya.

Saya bisa membayangkan penduduk Jakarta, terutama yang bergelut dalam dunia seni dan sastra kehilangan separuh dirinya jika Pasar Senen akhirnya sungguh lenyap. Di tempat inilah lahir dan melegenda nama-nama besar seperti Sitor Situmorang, SM Ardan, Ajip Rosidi, Soekanto SA, Soekarno M. Noor. Di tempat ini pula dahulu para intelektual muda progresif dan pejuang bawah tanah seperti Chairul Saleh, bahkan tokoh sekaliber Soekarno dan Hatta kerap menggelar pertemuan.

Kehilangan kenangan, kehilangan sebagian jati diri tentu juga dialami orang-orang Gorontalo dengan  Pasar Satya Pradja, penduduk Semarang dengan Pasar Peterongan, dan masyarakat Palembang dengan Pasar Gadang. Demikian juga masyarakat di kota-kota lain ketika pasar rakyat bersejarah melenyap karena tergusur atau menyepi ditinggalkan pedagang dan dipunggungi pembeli.***

Leave a Reply