Pasar Hilang, Sebagian Diri Melenyap

Jika tugu atau monumen cenderung hanya menyimpan kenangan pada peristiwa tertentu, pasar rakyat justru menyimpan kenangan panjang perjalanan sejarah masyarakat kota, dimulai sejak kota itu embrio.

Pergantian tahun adalah peristiwa istimewa. Ia pertanda kehidupan yang terus bergerak sekaligus terminal, jeda sejenak untuk melihat sejauh mana kita telah melangkah dan mengatur perjalanan selanjutnya.

Karena spesial, tahun baru kerap dirayakan bersama keluarga dan kerabat, membelanjakan waktu dengan santap bersama, senda-gurau, dan tentu saja bernyanyi dan menari.

Bicara tentang bernyanyi, jika di dalam acara tersebut hadir generasi kelahiran tahun 1980an ke bawah, apalagi pernah tinggal di Yogyakarta, Solo, atau Bali, saya berani bertaruh, satu dari antara lagu-lagu ini pasti dinyanyikan: Yogyakarta (Kla Project), Bali Bagus (Slank), Kuta Bali (Andre Hehanusa), Bengawan Solo (Gesang), dan Gereja Tua (Panbers).

Mengapa?

Lagu-lagu tersebut membawa kita kembali kepada tempat, bukan semata dalam arti ruang fisik, tetapi tempat sebagai kesatuan ruang fisik dan sosial, sebagai wadah berlangsungnya peristiwa atau rangkaian peristiwa, suatu masa ketika kita ada di dalamnya, menjalani hari-hari, terlibat intens di dalam kejadian-kejadian yang bermakna khusus, yang berkesan kuat pada masa lampau dan membentuk kita yang kini.

Lagu-lagu tersebut membawa kita kembali berjumpa sebagian diri kita, kenangan, yang tersimpan pada suatu masa di suatu tempat.

Lihatlah, apa yang memudahkan kita kembali ke tempat tersebut?

Penanda-penanda, yang fisik wujudnya tetapi menjadi representasi makna, pintu gerbang bagi kenangan akan peristiwa. Katon melantunkan ramai kaki lima di persimpangan, pedagang menjajakan aneka sajian makanan, dan orang-orang duduk bersila. Gesang senandungkan Sungai Bengawan Solo itu sendiri; Slank menyanyikan kenangan senja Pantai Kuta dan Andre tentang pasir putihnya; sementara Panbers bercerita tentang bangunan gereja tua pada sebuah desa yang entah di mana.

Mendengar atau menyanyikan lagu-lagu di atas, hati kita bukan tergetar oleh objek-objek fisik di dalam syair, tetapi oleh kenangan di baliknya. Kenangan pada orang-orang berarti yang pernah –sebagian mungkin masih— hadir di dalam kehidupan kita pada tempat-tempat itu, di Yogyakarta, di Solo, di Bali,atau di sebuah desa.

Kenangan tersebut sering sulit untuk serta-merta hadir tanpa bantuan penanda, bangunan-bangunan khas, objek-objek fisik mencolok. Bangunan-bangunan itu tak beda fungsinya dengan potret atau lukisan, cincin pernikahan, hadiah, kenang-kenangan, atau benda peninggalan dari orang-orang spesial.

Diri manusia bukan semata-mata tubuh dan nyawa, tetapi juga memori, kenangan-kenangannya. Kita sering menonton filem tentang orang-orang hilang ingatan, terbangun dari koma setelah sebuah peristiwa traumatik. Meski selamat, orang itu tidak merasa menjadi dirinya yang utuh. Ia kini orang lain karena hidup tanpa kenangan, tanpa ingatan akan peristiwa dan orang-orang dari masa lampau.

Begitu pula masyarakat atau  komunitas. Masyarakat kota misalnya, bukan semata-mata orang-orang dan bangunan-bangunan dan aktivitas-aktivitas, tetapi juga sejarahnya, peristiwa-peristiwa di masa lampau yang memahat lekuk sosial-budaya-politik-ekonomi masyarakat kota yang kini.

Karena kenangan, sejarah, adalah sebagian dari diri, bagian dari identitas, maka peran penanda sebagai gerbang menuju kenangan tentu sangat penting. Bicara tentang masyarakat kota, penanda, landmark itu umumnya berupa objek fisik yang khas. Wujudnya beragam. Ada yang berupa tugu dan monumen, ada kawasan pedestrian, ada taman, ada bangunan tua, dan tentu saja pasar. Ya Pasar! Pasar rakyat, pasar tradisional.

Inilah sebenarnya inti pembicaraan kita. Pada artikel sebelumnya, “Hari Pasar Rakyat: Mengapa Harus Repot” saya menulis tentang alasan-alasan ekonomi mengapa Hari Pasar Rakyat penting diperjuangkan. Sekarang saya mengajak kita menimbang aspek sosiologisnya, aspek kulturnya, aspek sejarahnya: Pasar Rakyat sebagai bank kenangan kolektif pun subjektif warga kota, sebagai pengingat identitas diri sebuah komunitas kota.

Batavia Market circa 1920 | Sumber: old-indische.com

Tentu saja pasar rakyat adalah penanda penting kota. Itu karena kota adalah pemusatan pemukiman dan aktivitas orang-orang yang didorong oleh tujuan utama ekonomi, dan aktivitas ekonomi terutama berlangsung di pasar. Maka boleh dikatakan, pasar, tentu saja pasar rakyat (pasar tradisional) adalah jantung dari sebuah kota, setidaknya pada masa lalu kota itu.

Leave a Reply