“Orang Sumba Makan ‘Ughi'” dan Konsep Manajemen Pangan di Timor

Orang NTT makan pangan alternatif, seperti Ughi di Sumba, sebagaimana diulas Pak Rofinus D. Kaleka dalam artikelnya “Ketika Penduduk Desa di Sumba Makan Ughi, Pertanda Apakah Itu?” bukan persoalan sederhana. Tidak cuma urusan pangan, ini juga menyangkut bias persepsi, termasuk persepsi media.

Pada Maret 2010, wartawan Tempo.co menulis berita tentang orang NTT makan pakan ternak karena krisis pangan (1). Pada Juni 2015, giliran kontributor Kompas melakukan “kesalahan” serupa (2). Warta ini menuai reaksi keras dari sejumlah pihak.

Sebagian pihak reaktif karena merasa hal ini membuat malu orang NTT. Respons yang seperti ini biasanya datang dari pihak pemerintah yang tidak mau mendapat pandangan minus dari masayakat.

Ada juga respons yang lebih substansial, yaitu terkait bias sudut pandang media massa. Dr. Elcit Li, sosiolog progresif di NTT memprotes berita itu dengan menggelar acara makan Putak, tepung irisan bagian dalam batang pohon lontar, sepekan sekali di kantornya. Saya (sebagai versi offline, bukan Tilaria Padika) lebih keras lagi. Dalam beberapa pertemuan dengan masyarakat desa yang menghadirkan orang-orang Jakarta, saya minta masyarakat menyajikan putak sebagai hidangan utama.

Hal itu kami lakukan untuk membersihkan bias persepsi pihak luar. Putak adalah pangan, bukan pakan. Betul bahwa ia juga diberikan kepada ternak sebagai pakan, tetapi bukan berarti mengonsumsi itu kita makan makanan hewan. Ini serupa saja dengan memberi anjing nasi dan gulai kambing. Nasi dan gulai kambing tetap saja pangan, bukan pakan anjing.

Rekan tim dari Jakarta disuguhi Putak dan Jagung dalam pertemuan dengan masyarakat desa. Dokpri

Memprotes salah persepsi itu bukan berarti saya bersikap seperti pemerintah lokal yang menolak mengakui adanya krisis pangan. Benar kata Pak Rofinus Kaleka, orang-orang yang mulai mengonsumsi ughi bisa jadi alarm krisis pangan. Krisis tidak berarti kelaparan.

Agar lebih jelas tentang ini, perlu kiranya saya sedikit menceritakan apa yang saya ketahui dari manajemen pangan orang Timor. Meski bercerita tentang Timor, bukan Sumba, saya pikir akan terdapat kesamaan antara dua pulau ini.

Saya bercerita tentang Timor karena saya boleh mengklaim cukup tahu –meski tak tahu semuanya–tentang manajemen pangan di pulau ini sebab beberapa tahun lamanya, sebelum memutuskan menjadi petani, saya (sebagai saya versi offline) adalah kuli lepas dengan job desk melakukan studi baseline dan memberikan assessment kepada LSM sebelum mereka merencanakan program terkait pangan dan gizi. Saya juga menyusun modul workshop dan kertas posisi penganekaragaman pangan. Jadi cukup akrab lah dengan soal ini.

Orang Timor memiliki tiga lapis sistem pencadangan pangan rumah tangga. Yang pertama adalah persediaan pangan di dapurnya (tingkap/loteng pada dapur sebagai tempat menampung peserdiaan pangan) atau di lumbung (untuk yang masih memiliki) yang disebut ume bubu (istana perempuan). Ya, istilah ini mencerminkan diskriminasi gender. Lain soal itu dan mungkin sewaktu-waktu jika saya suka, akan kita bahas.

Lapisan kedua adalah ternak, baik itu sapi, kambing, atau babi sebagai tabungan atau abuan yang dijual kala kepepet, termasuk ketika persediaan pangan di lumbung menipis.

Sementara yang ketiga adalah tanaman dan tumbuhan –bukan tanaman– yang tumbuh bebas di pekarangan rumah, kawasan perladangan bera, kawasan hutan, dan pinggiran sungai.

Bagi orang Timor, kondisi krisis pangan adalah ketika persediaan pangan di dapur/lumbung telah menipis. Mereka menyebut itu sebagai kondisi amnahas. Bahasa Indonesia yang masih belum cukup kaya menyetarakannya dengan kelaparan. Hal inilah yang membuat saya pernah melemparkan ke sejumlah kawan agar mengusulkan ke dewan bahasa atau lembaga apapun yang kompeten untuk menyerap istilah amnahas ke dalam Bahasa Indonesia.

Amnahas bukan kelaparan sebab masih tersedia sumber lain dalam sistem cadangan pangan masyarakat. Masih ada ternak untuk dijual dan tumbuhan pangan di halaman belakang rumah, ladang bera, dan hutan.

Amnahas tidak bisa juga diwakili oleh kelangkaan (scarcity) sebab kelangkaan dalam persepsi politik pangan kita yang menganut ketahanan, bukan kedaulatan dilihat dari ketersediaan di pasar. Amnahas adalah kondisi menipisnya stok di lumbung atau dapur (dapur sebagai lumbung) dan stok itu merupakan hasil panen dari kebun.

Amnahas biasanya terjadi mulai Oktober hingga Februari. Musim panen Jagung (pangan pokok orang Timor) terjadi di bulan Maret-April. Hasil panen umumnya bertahan hinga Oktober. Sejak Oktober hingga Februari, sebelum panen baru, masyarakat mengalami amnahas. Karena lazim, mereka menyebut ini sebagai fun amnahas. Bukan amnahas yang menyenangkan, lho. Amnahas yang normal terjadi.

Biasanya ketika amnahas menjadi lebih panjang oleh kemarau atau anomali iklim yang berdampak pada gagal tanam atau gagal panen, masyarakat mulai manfaatkan cadangan pangan di lapis kedua dan ketiga. Tidak selalu dalam urutan demikian. Lapisan ketiga bisa saja lebih dahulu dimanfaatkan.

Dengan perkembangan terkini, ketika pasar pangan, terutama beras menginfiltrasi ke pelosok-pelosok desa, sering kali cadangan pangan lapis kedua dan ketika tidak dimanfaatkan. Upah sebagai buruh lepas atau hasil menjual kayu bakar dapat dipakai membeli beras.

Ada sangat banyak jenis sumber pangan lokal berupa tumbuhan yang pernah (sebagian besar masih) dikenali dan dimanfaatkan orang Timor.

Pada 2012 silam, saya (sebagai versi offline) terlibat dalam tim riset Dr. Wayan Mundita (dibiayai Perkumpulan Pikul dan Oxfam) untuk memetakan pangan lokal masyarakat di Pulau Lembata, Rote, Sabu, serta Kabupaten Kupang dan TTS. Hasil riset itu telah terbit dalam buku yang boleh Anda unduh versi digitalnya di tautan Perkumpulan Pikul ini). Kami berhasil memetakan sangat beragam (jenis dan intra-jenis) sumber pangan pokok nabati, baik itu tanaman yang sengaja dibudidaya atau tumbuhan yang belum didomestifikasi, yang dikenali dan pernah atau sedang dimanfaatkan masyarakat.

Untuk jenis serealia ada jali (Coix lacrima-jobi L.), cantel (Sorghum bicolor), padi (Orya sativa), jagung (Zea mays), dan jewawut (Setaria italic).Umbi-umbian lebih banyak lagi jenis dan varian-nya. Ada suweg (Amorphophallus paeniifolius), ganyong (Canna indica), talas atau keladi (Colocasia esculenta), uwi (Dioscorea alata), uwi buah (Dioscorea bulbifera), gembili (Dioscorea esculenta), uwi pasir (Dioscorea pentaphylla), kimpul (Xantoma sagittifolium) serta tentu saja singkong (Manihot esculenta) dan ubi jalar (Ipomoea batatas). Ada 12 jenis kacang-kacangan, baik budidaya, pun tumbuhan liar; dan setidaknya 7 tumbuhan dan tanaman yang buah/bunga/batangnya digunakan sebagai pangan sumber energi. Jadi tidak termasuk yang dijadikan sayur.

Dalam kondisi normal, sumber-sumber pangan ini ada yang dimanfaatkan sebagai camilan di pagi dan sore hari dan atau diberikan kepada ternak. Dalam kondisi amnahas yang berkepanjangan, masyarakat pedesaan memanfaatkannya sebagai pangan.

Ketika masyarakat di Timor memanfaatkan aneka tanaman dan tumbuhan non-domestifikasi ini sebagai bahan pangan, bukan berarti masyarakat sedang mengalami kelaparan yang membutuhkan status siaga sekian yang mengundang kepanikan. Tetapi tidak berarti juga kondisi sedang aman-aman saja. Kondisi ini adalah indikator ketersediaan pangan di lumbung dalam kondisi kritis oleh sebab yang tidak normal (biasanya karena bencana dan kekeringan yang berdampak gagal panen atau gagal tanam).

Menghadapi kondisi begini, pemerintah tidak perlu tergopoh-gopoh dan akhirnya bertindak gegabah. Tindakan gegabah pernah dilakukan Mensos Kofifah dalam merespons pemberitaan Kompas. Ia membawa bantuan berkadus-kardus mie instant (3). Ini adalah tindakan memperkenalkan masyarakat pada racun. Monokultur konsumsi pangan pokok beras saja sudah merepotkan dan sulit mengembalikan kultur masyarakat pada pola konsumsi beragam pangan. Lha ini, ditambah lagi dengan memperkenalkan mie instant.

Sebaiknya pemerintah menghindari bersandar pada pendekatan “pemadam kebakaran”. Adalah lebih baik mengambil langkah yang lebih strategis untuk melengkapi peningkatan produktivitas pertanian pangan. Langkah itu bisa berupa mendorong masyarakat mengingat kembali beragam potensi pangan yang tersedia di sekitar mereka. Mengenali, mengembangkan teknik pengolahannya, dan menyediakan di meja makan. Syukur-syukur jika masyarakat bisa didorong untuk mendomestifikasi, membudidayakan.

Dengan langkah ini, bukan saja orang terhindar dari kelaparan, tetapi juga pola konsumsi masyarakat menjadi lebih bergizi seimbang. Salah satu syarat pemenuhan gizi seimbang adalah penganekaragamaan konsumsi pangan.

Demikianlah. Semoga menyumbang sedikit coretan pada gambar besar kondisi pangan di NTT.

About Post Author

Om Gege

Kuli, tetapi (justru karena itu) sombongnya minta ampun. Sebab oleh keringat kamilah peradaban berderap.