Ketika Sri Mulyani Ngotot Kartu Prakerja, Subsidi Startup Kursus Online

#2. Pelaksanaan Program Kartu Prakerja tidak tepat metode.

Gara-gara dipaksakan berjalan di tengah pandemi, program Kartu Prakerja diramalkan tidak akan berbuah output yang diharapkan. Demi mematuhi social distancing, kursus-kursus digelar online. Padahal banyak keterampilan yang dibutuhkan buruh harus diajarkan dengan bimbingan secara tatap muka.

Misalnya saya ingin mempelajari kemampuan baru bertukang kayu atau tukang batu. Keahlian seperti ini tentu butuh peralatan yang tidak bisa saya sediakan sendiri, dan harus learn by doing di bawah bimbingan mentor profesional. Jadi tidak bisa hanya dengan memelototi layar komputer atau henpon.

#3. Pelaksanaan Program Kartu Prakerja tidak tepat konten.

Perlu diakui, banyak materi kursus yang ditawarkan platform-platform mitra program Kartu Prakerja berguna bagi pengembangan kapasitas buruh dan calon pekerja mandiri. terima kasih kepada para profesional yang telah menyusun dan para pengusaha makelar jasa yang sudah mewadahi dalam platform mereka.

Tetapi ada pula paket yang tidak berkualitas bahkan susah membayangkan hubungannya dengan pengembangan kapasitas. Paket-paket aneh tersebut tidak seharusnya didagangkan kepada peserta program Kartu Prakerja yang duitnya berasal dari APBN.

Contoh yang banyak menuai kritik publik adalah kursus memancing.[2] Seharusnya hal seperti ini tidak dimasukkan ke dalam paket yang dibayar pakai dana APBN. 

Ketika seseorang ingin belajar memancing, cukuplah ia bertanya kepada kakeknya atau minta diajak teman yang punya hobbi memancing. Soal pengetahuan seperti macam-macam alat pancing, bisa diperoleh dari banyak konten gratis di internet.


Baca juga: “Tes Massal atau Karantina Massal? Indonesia Pilih Kursus Kecantikan“.


#4. Pelaksanaan Program Kartu Prakerja tidak tepat harga.

Banyak pula paket-paket belajar yang disediakan mitra program Kartu Prakerja dikenakan harga yang tidak pantas, terlalu mahal.

Misalnya ada program pelatihan “Microsoft Office untuk Pemula: Outlook, Word dan Excel” di Pijar Mahir. Yang diajarkan adalah “Pembuatan dan penyuntingan dokumen Word.”

Padahal ilmu ini bisa ditanyakan gratis kepada murid kelas 6 sekolah dasar. Mereka akan jelaskan dengan sukacita. Tetapi di Pijar Mahir hal ini dijual Rp 260.000.[3]

Contoh lainnya adalah kursus “Youtube Content Creator” yang ditawarkan pelatihan.kemnaker.go.id. Materi-materi yang diajarkan adalah “Pengantar YouTube Content Creator, membangun Channel dan Membuat Content, mendapat Penghasilan Sebagai YouTube Content Creator.” Hal begini betebaran gratis di internet tetapi pada platform plat merah ini dijual seharga Rp 300.000.[4]

Kursus “Kreasi Konten Digital” yang di platform Kemnaker dihargai Rp 999.000,[5] di Inggris disediakan gratis bagi penerima unemployment benefit di negara tersebut.[6]

Leave a Reply