Komik dan Film Black Panther, Perlawanan Kontrakultur

Anda mungkin termasuk yang ikut heboh berjejalan di pintu bioskop untuk menonton Black Panther. Sudah sewajarnya. Black Panther patut diapresiasi, bukan sekedar karena ia film laga superhero yang diadaptasi dari komik Marvel yang pasti seru dan memanjakan imajinasi. Lebih dari itu, Black Panther adalah sebuah kontra-kultur, sebuah manifesto politik dalam kebudayaan pop yang menantang ideologi arus utama di negara tempat kelahirannya, Amerika Serikat.

Black Panther lahir dalam seri komik Fantastic Four nomor 52, July 1966.(1) Itu saat ketika gerakan hak sipil kulit hitam menguat. Ini adalah bulan di mana Martin Luther King melancarkan aksi massa besar-besaran di Chicago untuk menentang diskriminasi terhadap kulit hitam. Ini adalah tahun  ketika gerakan politik revolusioner kulit hitam, The Black Panther Party di deklarasikan di Oakland, California (Oktober 1966).

Juni 1966, sebulan sebelum superhero Black Panther muncul di Fantastic Four, tokoh gerakan mahasiswa, Stokely Carmichael alias Kwame Ture, ketua Student Nonviolent Coordinating Commitee (SNCC) mempopulerkan slogan ‘Black Power.'(2) Setahun sebelumnya, Malcolm X tokoh gerakan revolusioner kulit hitam AS dibunuh dan setahun setelahnya Muhammad Ali menolak ikut wajib militer dalam perang Vietnam karena memandang perang itu sebagai ‘perang kulit putih yang mengorbankan warga kulit berwarna.’

Era 1960an adalah zaman bergerak di Amerika Serikat.

Ada empat isu utama yang diteriakkan rakyat Amerika Serikat dalam aksi-aksi protes di jalanan. Yang pertama terkait diskriminasi terhadap warga kulit hitam. Gerakan kesetaraan hak bagi warga kulit hitam ini terdiri dari 3 fraksi yang berbeda jalan: Malcom X, Martin Luther King, dan The Black Panther Party. Yang kedua adalah gerakan menolak perang vietnam. Gerakan berskala luas ini dimotori oleh Students for a Democratic Society (SDS) dan Free Speech Movement (FSM).(3)

Gerakan Hak Sipil 1960an. Sumber: emaze.com

Isu yang ketiga adalah kesetaraan hak buruh migran terutama buruh sektor perkebunan. Gerakan ini dimotori oleh United Farm Workers (UFW), organisasi buruh perkebunan multietnis yang dipimpin oleh Cesar Chavez. UFW berkontribusi besar pada gerakan masyarakat sipil AS dengan memperkenalkan aksi-aksi boitkot produk oleh konsumen.(4)

Yang keempat adalah gerakan feminisme yang memprotes diskriminasi jender di tempat kerja. Gerakan ini dipimpin oleh National Organization for Women (NOW).(5)

Semua komponen gerakan dan isu tersebut kerap bersatu  di bawah payung tuntutan hak-hak sipil, demokrasi, perdamaian dan keadilan.

Bukan hanya aktivis, para seniman dan selebriti juga menggalang perlawanan, terutama dalam bentuk budaya tandingan. ‘Mahadewi tercinta’ Joan Baez melantunkan”We Shall Overcome” dan berderet tembang protes lainnya. Bob Dylan mengeluarkan album The Freewheelin’ dan The Times They Are a-Changin’. Sam Cooke menyanyikan “A Change Is Gonna Come“; Phil Ochs  dengan “I Ain’t Marching Any More“; Joe McDonald  menulis “I Feel Like I’m Fixin’ to Die Rag“; John Lennon and the Plastic Ono Band melantunkan “Give Peace a Change” dan bersama Beatles menyuarakan ‘Revolution“.(6)

Joan Baez dalam demonstrasi di London 1965, menolak perang Vietnam. Sumber: Getty Images/irishtimes.com

Perlawanan budaya tidak hanya melibatkan artis dan musisi. Para pemuda biasa kulit putih melancarkan counter-culture  melalui gaya hidup (hippies) dan musik. Di era inilah festival woodstock bermula pertama kali, bertema three days of peace, music, and love.

Era 1960-an adalah era tercerdas, era revolusioner di Amerika Serikat. Rakyat AS bangkit melawan sistem, industri dan pemerintahan yang diskriminatif SARA dan doyan perang. Pada era inilah Jack Kirby dan Stan Lee membuat komikFantastic Four(Nov. 1961), yang di dalam seri ke- 52 (Juli 1966) memperkenalkan karakter Black Panther, superhero kulit hitam.

Fantastic Four dan Black Panther mewakili suara rakyat di masanya, kerinduan akan kesetaraan umat manusia: kelas, jender, ras, etnis, dan agama.

[E]verything I could think of! A full international platoon of all religions, and people said, “Oh, you can’t do that, Stan, the book won’t sell down south, or up north, or here or there.” And it was one of the best selling books, which shows there’s something good about the public,” kata Stan Lee.(7)

Aksi Black Panther melawan gerombolan rasis, Klu Klux Klan dalam salah satu seri komik. Bahkan pakaian pun mirip FPI. Sumber: twimg.comJadi jika Anda pendukung politik identitas, yang membedakan hak warga negara berdasarkan etnis dan agama, sebaiknya Anda jangan ikut tonton  Black Panther. Anda harus malu pada diri sendiri. Demikian pula jika Anda seorang pendukung fanatik pemerintah, yang rela menanggalkan nalar demi mendukung segala kebijakan, yang salah dan tak adil sekalipun, jangan tonton film ini. Sebab, sekali lagi, Black Panther mewakili semangat zamannya dalam melawan kediktatoran dan kesewenang-wenangan kekuasaan, dan sebaliknya mencita-citakan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh umat manusia.

About Post Author

Om Gege

Kuli, tetapi (justru karena itu) sombongnya minta ampun. Sebab oleh keringat kamilah peradaban berderap.