Diskon Besar Jokowi untuk Perusahaan yang Lari dari China

Kapitulasi Leftist Fukuyamaist?

Seorang kawan yang membaca ini mungkin akan berkomentar, lihatlah kapitulasi ideologis ini. Beginilah sikap leftist fukuyamaist yang sering diungkapkan Slavoj Zizek sebagai sindiran itu.

Saya tidak akan membela diri terhadap tudingan itu.

Saya hanya mau realistis bahwa demikianlah realitanya, kekuasaan berada di tangan jamaah yang mengimani modal internasional sebagai satu-satunya penyelamat. Bahkan oposisi yang dulu seolah-olah berseberangan pun, ketika dikasih jabatan menteri, sama pula sikap dan kebijakannya.

Yang ironis adalah kekuasaan justru berada di tangan kekuatan politik yang selalu mengusung Sukarno sebagai simbol, mengklaim dri pelanjut marhaenisme.

Sukarnois apanya?

Sukarno dengan tegas menyatakan Indonesia seperti apa di seberang kemerdekaan sebagai jembatan emas itu.

Dalam pamflet Mentjapai Indonesia Merdeka, ia sampaikan wujud Indonesia masa depan yang dicita-citakannya.

“Tidak boleh ada satu perusahaan lagi yang secara kapitalistis menggemukkan kantong seseorang boerjuis ataupun menggemukkan kantong burgerlijke staat, tetapi masyarakatnya Politiek-Economische Republik Indonesia adalah gambarnya satu kerukunan Rakyat, satu pekerjaan bersama dari Rakyat, satu kesama-rasa-rataan daripada Rakyat.”

Soal ini baca artikel “Socio-demokrasi, Ketika Soekarno Mendahului Badiou, Zizek, Laclau, dan Mouffe“.

Demikian pula tandem Sukarno, Muhammad Hatta, menghendaki perekonomian Indonesia berprinsip gotong royong, kepemilikan bersama dalam wujud koperasi.

Hah. Saya cuma ingin menatap mata Hasto Kristiyanto, Rieke Diah Pitaloka, Budiman Sudjatmiko, Adian Napitupulu, Masinton Simanjuntak, Prananda Prabowo, dan lain-lain kader PDIP sambil mendengar mereka menyampaikan klaim diri dan partainya sebagai Sukarnois, sebagai parpol berteori perjuangan marhaenisme.

Saya ingin lihat, adakah pancaran malu dan putus asa di mata mereka. Ataukah mereka masih juga menipu diri, merasa pelanjut perjuangan dan kepeloporan PNI?


Kembali ke awal

About Post Author

Om Gege

Kuli, tetapi (justru karena itu) sombongnya minta ampun. Sebab oleh keringat kamilah peradaban berderap.

Leave a Reply