Diskon Besar Jokowi untuk Perusahaan yang Lari dari China

Strategi Sun Tzu: Lempar Bata Raih Permata?

Dari sudut pandang negara kapitalis atau pemerintahan berhaluan politik ekonomi kapitalis, tindakan Joko Widodo tepat. Negara butuh lapangan kerja bagi rakyatnya. Untuk itu dibutuhkan investasi. Pemerintah harus proaktif menarik investor masuk. Seperti para mucikari banting harga para perempuan binaannya agar turis back packer sudi berbaring barang sejam.

Pemerintah negara-negara lain melakukan hal yang kurang lebih serupa. Saya pernah mengulas bagaimana Pemerintah Taiwan diduga ‘memanipulasi’ program beasiswa demi mendapat buruh murah bagi industri padat teknologi yang hendak hengkang dari China daratan (Baca: “Kuli atau Kuliah? Modus Taiwan Impor Buruh Murah“.)

Mempermudah perizinan atau bahkan memberikan insentif seperti harga sewa murah petak pabrik di kawasan industri adalah strategi lempar bata meraih permata, salah satu strategi standar Sun Tzu.

Penerimaan negara dari sewa lahan di kawasan industri boleh saja berkurang. Tetapi negara akan mendapatkan lebih banyak dari efek domino yang diciptakan oleh masuknya investasi. Buruh-buruh terserap, memiliki daya beli, yang selanjutnya berarti roda perekonomian berputar. Begitu pula bisnis-bisnis kecil yang punya forward dan backward linkage dengan kawasan industri, seperti warung makan, kos-kosan, ojek, dan banyak lagi.

Hanya saja, penting untuk diperhatikan Pemerintahan Joko Widodo. Pertama, jika harga sewa lahan sudah dimuat murah, jangan pula upah buruh dikorbankan demi menarik minat para investor.

Bukankah diskon sewa lapak kawasan industri itu agar rakyat punya pekerjaan? Tetapi untuk apa pekerjaan jika upah tak cukup untuk biaya hidup?

Kedua, cukup duit para investor itu yang dimasukkan. Jangan pula pekerja kerah biru, kuli-kuli dari negara mereka ikut masuk.

Bukan karena saya tidak bersemangat kemanusiaan, internasionalis; bukan karena tidak menghayati Sila Kedua Pancasila. Lha kalau TKA kerah biru ikut membanjiri Indonesia pula, apalagi manfaat yang tersisa bagi kita?


Next: “Kapitulasi Leftist Fukuyamaist?

Leave a Reply