Garam Impor: Fakta dari Sabu Membantah Silat Lidah Pemerintahan Jokowi

Saat Presiden Joko Widodo mengumumkan kebijakan mengimpor 3 juta ton garam, ironis, rakyat petambak garam di Pulau Sabu menjerit putus asa sebab sudah hampir tiga tahun garam yang mereka hasilkan menumpuk di gudang, tiada pembeli.

Pemerintahan Jokowi boleh saja bersilat lidah, garam impor adalah garam industri dengan kualitas di atas garam dapur produksi rakyat. Tetapi lidah mereka tergores luka oleh fakta lapangan.

Tidak perlu susah-susah mencari fakta ke tempat jauh. Silat lidah pemerintahan Jokowi itu patah oleh jegalan informasi yang disampaikan Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sabu Raijua, Lagabus Pian.

Dikutip dari Kompas.com (21/3/2021), Lagabus Pian menyampaikan saat ini terdapat 20.000 ton garam produksi rakyat Sabu Raijua yang menumpuk di gudang karena tidak ada lagi pembeli. Banyak pembeli menghilang sejak 2018, yaitu ketika Pemerintahan Joko Widodo mengimpor 3,77 juta ton garam.

Garam impor yang diklaim untuk industri tersebut bocor ke pasar garam tradisional dan menggeser garam produksi rakyat dari lapak-lapak pasar, warung-warung kecil. Tentu saja garam produksi rakyat kalah saing sebab selain berkualitas tinggi, garam impor juga lebih murah. Demikianlah hukum bisnis itu. Produsen bermodal besar pasti unggul harga dan kualitas dibandingkan rakyat penambak yang cuma bermodalkan keringat, lahan tambak sempit, dan kemurahan hati alam.

Akan tetapi garam produksi tambak di Sabu bukanlah garam dapur.

Tambak garam di Pulau Sabu merupakan milik pemerintah kabupaten. Tambak seluas total 105 ha yang tersebar di sejumlah kecamatan tersebut dikembangkan pada 2014 semasa pemerintahan Bupati Marthen Dira Tome. Ada 882 orang buruh tambak garam yang merupakan penduduk setempat.

Produksi garam di Sabu menggunakan teknologi Geomembran High Density Polyethylene (HDPE) sehingga menghasilkan kadar NaCl 96,20 persen. Demikian kualitas garam Sabu berdasarkan uji Baristand Surabaya.

Perlu diketahui, kadar NaCl garam dapur berkisar antara 94%-96%. Dengan kadar NaCl 96,20%, garam produksi Sabu berada dalam kisaran kualitas SNI garam industri.

Garam industri untuk Chlor Alkali Plant (CAP) hanya membutuhkan kadar NaCl 96%. Industri CAP merupakan konsumen terbesar garam industri, menyerap hingga 67% (2,5 juta ton) dari pasokan garam impor. Hal ini berarti tidak ada alasan garam yang diproduksi di Sabu tidak memiliki pasar.

Pada periode 2015-2018 — sebelum kebijakan impor garam ugal-ugalan pada 2018 — produksi garam Sabu yang sebesar 2.000 ton per bulan itu aman-aman saja. Selalu ada pembeli meski harga jual lumayan tinggi, Rp1.200 hingga Rp1.500 per kilogram.

Setelah serbuan garam impor Jokowi pada 2018, harga garam Sabu jatuh lebih dari separuh, menjadi tinggal Rp500 – Rp700 per kilogram. Pemkab Sabu terpaksa merelakan garam dijual pada harga di bawah biaya produksi. Mereka harus menekan kerugian.

Namun permintaan yang murah itu terus mengecil – pada 2019 hanya terjual 1.200 ton dari total produksi 8.500 ton – dan akhirnya sama sekali terhenti pada awal 2020 sehingga garam berkualitas industri produksi petambak di Sabu menumpuk di gudang. Bahkan banyak yang ditumpuk ala kadarnya di luar gudang yang sudah kepenuhan.

Tidak terserapnya garam industri produksi dalam negeri karena kebijakan impor bukan cuma dialami pemkab dan petambak garam Sabu.

Ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) Jakfar Sodikin menyatakan produksi garam rakyat saat ini telah mencapai 2,21 juta ton dan mayoritas berasal dari Madura, Jawa Timur yang kualitas garamnya telah mencapai 97% NaCl. Tetapi banyak industri yang tidak jujur, memanipulasi anggapan bahwa garam produksi rakyat masih bermutu rendah (kadar NaCl 94%) sehingga tidak mau menerima garam rakyat dan memilih impor.

Referensi:

  • Kompas.com (21/3/2021), “Imbas Kebijakan Impor, 20.000 Ton Garam Industri di Sabu Raijua NTT “Nganggur” Tak Laku Dijual”.
  • Bisnis.com (25/1/2018), “Serap Hingga 67%, Industri Chlor Alkali Plant Dominasi Konsumsi Garam Impor”.
  • Kontan.co.id (11/11/2018), “Jatah garam industri masih jadi garam meja”.