Hari Pasar Rakyat, Perlukah?

Sebenarnya sejarah pasar modern di Indonesia bermula dengan diresmikannya Sarinah pada 17 Agustus 1962 oleh Presiden Soekarno. Meskipun berstatus pasar ritel modern, maksud pendirian Sarinah saat itu adalah sebagai pengendali harga dan sebagai proyek kultur untuk mengikis rasa rendah diri rakyat Indonesia. Pemerintah membatasi barang impor di Sarinah tidak melampaui 40%. (historia.id, 22/01/2014).

Pada 1990, Soho, raksasa ritel asal Jepang membuka cabang pertama di Plaza Indonesia. Namun perkembangan ritel modern baru melaju pesat setelah Indonesia didesak IMF untuk melakukan liberalisasi ekonomi sebagai bagian dari paket “penyelamatan krisis”.

Sejak liberalisasi itu, pasar ritel modern bertumbuh pesat. Pada 2007 terdapat 10.365 gerai ritel modern, naik menjadi 11.927 gerai pada 2009, 16.922 pada 2010, dan 18.152 gerai pada 2011. (Indonesian Commercial Newsletter Juni 2011 dan beritaunsoed.com, 20/08/2015). Pada 2016 ini jumlah ritel modern telah mencapai 36.000 gerai. (sentananews.com, 01/01/2016). Ketika pasar rakyat bertumbuh negatif 8% per tahun, pasar ritel modern justru bertumbuh sekitar 27%.

Menurut kajian IKAPPI, pesaingan ritel modern bermodal besar dan rakyat pedagang di pasar tradisional berdampak pada berkurangnya omzet pedangan kecil kelontongan hingga 40%. Riset AC Nielsen menemukan bahwa antara 2009-2010, pangsa pasar rakyat turun dari 80% menjadi 70%, sebaliknya pangsa pasar ritel modern naik dari 20% menjadi 30%. (bisnis.liputan6.com, 03/04/2016).

Dengan pangsa pasar 30% (2010) atau setara omzet Rp 70,5 triliun, masing-masing 28 ritel modern utama menikmati rata-rata omzet 2,5 miliar per tahun. Sementara itu, omzet Rp 156,9 triliun pasar ritel rakyat harus dibagi kepada 17an juta rakyat pedagang. Artinya, tiap-tiap rakyat pedagang di pasar tradisional hanya memperoleh omzet Rp 9 juta per tahun.

Mengapa Perkembangan Ini Membahayakan

Pertumbuhan negatif pasar rakyat adalah persoalan serius. Menurut Deputi Produksi dan Pemasaran, Kemkop dan UKM, I Wayan Dipta, pada 13.450 pasar tradisional di Indonesia, bekerja sekitar 12,6 juta pedagang kecil. (beritasatu.com, 25/02/2016). Artinya rerata pada setiap pasar hampir 1.000 orang pedagang menggatungkan hidupnya. Maka penutupan 10 pasar saja berarti 10.000 kehilangan pekerjaan.

Jika 1 orang pedagang harus menanggung hidup 4 orang anggota rumah tangga, maka penutupan 10 pasar tradisional saja menyebabkan kemelaratan 40.000 orang. Ini belum termasuk kuli panggul yang jumlahnya juga sangat besar, serta jangan lupa, para petani dan bakul (pedagang pengumpul) yang memasok bahan-bahan pangan ke pasar rakyat.

Jadi, penutupan 10 pasar rakyat dapat berdampak pada menurunnya kesejahteraan 100an ribu penduduk. Coba kita bayangkan ketika 1.000 pasar rakyat  ditutup.

Sebagian besar pelaku di pasar rakyat adalah sektor informal. Sektor inilah yang selama ini berfungsi sebagai jaring pengaman ketika krisis ekonomi menyebabkan gelombang PHK dan ketika hingga kini pemerintah gagal menjamin ketersediaan lapangan kerja yang mengimbangi laju pertumbuhan angkatan kerja. Data Kementerian Perdagangan menyebutkan 12,5 persen atau 30 juta penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai pedagang di pasar rakyat. (Kompas.com, 21/12/2016).

Dengan demikian, ketika pasar rakyat babak belur, puluhan juta orang tingkat kesejahteraannya menurun, jutaan orang kehilangan pekerjaan, rakyat (rumah tangga konsumen) kehilangan daya beli. Ini memukul sektor lain seperti manufaktur dan jasa. Para petani kecil yang tidak mungkin menyalurkan hasil pertanian ke ritel modern juga kehilangan saluran pemasaran.

Jelaslah, dukungan terhadap pasar rakyat bukan semata-mata persoalan belas kasihan atau keberpihakan kepada masyarakat miskin. Persoalan ini merupakan persoalan penyelamatan masa depan ekonomi bangsa, kepentingan kita semua.

About Post Author

Om Gege

Kuli, tetapi (justru karena itu) sombongnya minta ampun. Sebab oleh keringat kamilah peradaban berderap.

Leave a Reply