Hari Pasar Rakyat, Perlukah?

Dinamika Pasar Tradisional dan Modern

Pasar rakyat sudah dikenal masyarakat Nusantara konon sejak zaman kerajaan Kutai Kartanegara (abad ke-5 Masehi).

Keberadaannya sangat strategis, tampak misalnya di dalam tata ruang kota-kota di Jawa pada era 1600. WF Wartheim (Masyarakat Indonesia dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial. 1999) menulis bahwa pasar terletak tidak jauh dari Keraton dan alun-alun. Semakin dekat kraton semakin penting peran sebuah objek ruang.

Pasar rakyat berperan penting di dalam sejarah bangsa. Sarekat Dagang Islam didirikan pada 1905 sebagai upaya pedagang pribumi melawan ketersingkiran dari persaingan di Pasar Gede, Surakarta. SDI merupakan cikal bakal Sarekat Islam, salah satu organisasi yang merintis era perjuangan modern kemerdekaan Indonesia.

Kini, dari tahun ke tahun jumlah pasar rakyat justru kian sedikit. Menurut AC Nielsen, pada 2007 jumlah pasar rakyat di Indonesia 13.550. Pada 2011 jumlahnya menyusut menjadi 9.950 unit. Per tahun, jumlah pasar rakyat bertumbuh negatif 8,1%. (beritaunsoed.com, 20/08/2015).

Program pembangunan pasar baru pada tahun-tahun belakangan tampaknya berhasil meningkatkan jumlah pasar rakyat hingga kembali ke kisaran dua belasan ribu, termasuk perkiraan dua ribuan yang belum terdata. (republika.co, 02/10/2014).

Trend penurunan jumlah pasar tradisional ini tidak terlepas dari menjamurnya kehadiran pasar ritel modern sejak akhir 1990an.

About Post Author

Om Gege

Kuli, tetapi (justru karena itu) sombongnya minta ampun. Sebab oleh keringat kamilah peradaban berderap.

Leave a Reply