Hari Pasar Rakyat, Perlukah?

Memang sih, sepertinya tidak ada tanggal di Indonesia yang tanpa atribut peringatan ini-itu. Entah itu hari suci umat beragama, hari nasional, hari profesi tertentu, pun peringatan-peringatan yang bersumber pada tradisi nasional dan internasional.

Lha kalau begitu mengapa harus ada Hari Pasar Rakyat segala?

Pasar Tradisional vs Pasar Modern

Menyadari ada orang tak tahu cara kupas salak, kita harus berasumsi pula ada orang yang belum pernah menginjakkan kaki di pasar tradisional. Meski demikian, lebih masuk akal membayangkan semua orang tahu pasar tradisional, sekalipun cepat melintasi di depannya, mendengarkan cerita asisten rumah tangga, atau melihatnya di tayangan sinetron.

Tetapi definisi pasar tradisional sebenarnya tidak punya kaitan dengan kondisinya yang becek dan penuh jejalan orang-orang. Bahwa umumnya demikian, ya, tetapi bukan itu hakikatnya.

Pasar disebut tradisional sejatinya jika pembeli dan penjual masih bertemu secara langsung; tatap-tatapan, berkomunikasi tawar-menawar.

Tetapi karena umumnya pasar seperti ini adalah pasar bahan pangan, pasar tradisional sering disebut juga pasar basah. Sementara dari sisi partisipannya, karena paling banyak commoners, pasar tradisional disebut pula pasar rakyat.

Di pasar modern, pembeli dan penjual tidak berjumpa muka ketemu muka, apalagi bercakap-cakap adu kuat tawar-menawar harga. Adakah yang pernah berjumpa bos carrefour, hypermart, Sogo, LotteMart, Spar, Hero, Giant,Robinson, Indomaret, Superindo, Alfamart, dll berdiri di samping rak sambil menjajakan barang? “Om beli, Om?”

Tidak pernah bukan. Pembeli memilih barang sendiri di deratan rak, membawanya ke cashier, membayar di sana. Karena inilah pasar moderen disebut juga swalayan.

Di Indonesia, berdasarkan Keppres 112/2007, pasar ritel moderen terbagi atas tiga kategori menurut luas areal dan nilai total barang yang diperdagangkan.

Yang paling kecil adalah minimarket. Luas maksimalnya 400 m2 dan total nilai barang yang diperdagangkan paling tinggi Rp 200 juta. Kalau lebih besar dari minimarket tetapi luasnya kurang dari 5.000 m2 dan nilai barang di bawah Rp 10 miliar, namanya supermarket.

Yang paling besar adalah hypermarket. Luasnya di atas 5.000 m2 dan potensi penjualan paling kurang Rp 10 miliar.

Leave a Reply