Gerindra Ceraikan PKS di Pilkada Depok, Mutung atau Prakondisi 2024?

Pilpres 2024: Politik Kebangsaan vs Fundamentalis Politik Identitas.

Oh jadi Gerindra mengkhianati persahabatan lama hanya karena teman baru lebih menjamin pencapaian ambisi Gerindra sundul Prabowo ke kursi RI 1?

Saya kira tidak sepragmatis itu. Pertarungan 2024 akan sungguh ideologis.

Kenapa?

Tempo hari, saat hasil pilpres dalam masa perhitungan, Komunitas Penulis Kupang dan NTT (Kampung NTT) menggelar diskusi rutin perihal kepenulisan. Seusai diskusi saya belum bisa pulang sebab direktur lembaga yang kantornya selalu Kampung NTT occupy saat mengelar diskusi rutin dulu ingin ngobrol sebentar. Karena lebih sebulan tidak ngobrol santai, ia menelpon beberapa pimpinan lembaga masyarakat sipil lain.

Bagaimana ke depan, pascapilpres ini, yang jadi tema ngobrol santai kami.

“Sudah cek peta sebaran suara pilpres?” Tanya saya dan segera menunjukkan gambaran sementara – saat itu belum selesai perhitungan.

Daerah-daerah pergolakan sepanjang 1949 – 1962 dimenangkan Prabowo. Di Kalsel Prabowo menang di 12 wilayah. Jokowi hanya satu. Di Jawa Barat Prabowo menang di 21 kabupaten/kota. Jokowi hanya 6. Begitu pula Aceh, Prabowo menang besar.

Bagaimana membaca peta sebaran suara ini?

Ada konsolidasi layer belakang yang memanfaatkan Prabowo-Sandiaga; menumpang ekskalasi isu identitas dalam pilpres.

Jadi, pemenang Pilpres sesungguhnya adalah kelompok yang bertendensi ideologis serupa kelompok-kelompok di daerah pergolakan 1949-1962. Mereka berhasil menjadikan pilpres 2019 sebagai momen konsolidasi. Hasil konsolidasi ini sangat menentukan Pilpres 2024 mendatang.

Kalau kelompok kebangsaan tidak segera menyadari ini, dan masiih terpecah belah, berhadap-hadapan padahal senjatnya ditunggangi kelompok fundamentalis politik identitas, sulit membayangkan Indonesia pasca-pilpres 2024.

Beberapa orang menimpali dengan informasi dari sejumlah dokumen riset yang mendukung dugaan saya.

Lalu bagaimana?


Next: Kuncinya Terletak pada Prabowo Subianto

About Post Author

Om Gege

Kuli, tetapi (justru karena itu) sombongnya minta ampun. Sebab oleh keringat kamilah peradaban berderap.

Leave a Reply