Ekspor CPO dan Kebijakan Biodiesel B30 Kontributor Surplus Neraca Perdagangan 2020

Penyebab utama surplus neraca perdagangan 2020 adalah kontraksi ekspor lebih rendah dibandingkan kontraksi impor. Jadi penguatan neraca perdagangan Indonesia 2020 lebih merupakan silent grace dibandingkan prestasi pemerintah.

Lebih rendahnya kontraksi ekspor dibandingkan impor salah satunya disumbangkan oleh ekspor minyak sawit, baik minyak sawit mentah (CPO) pun produk olahannya.

Menurut Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi), Tungkot Sipayung, perolehan devisa dari ekspor minyak sawit pada 2020 sebesar 25,60 miliar dolar AS, merupakan yang terbesar dalam 20 tahun terakhir.

Surplus perdagangan sawit menyumpang 85% terhadap total surplus neraca perdagangan nonmigas yang sebesar 27,70 miliar dolar AS.

Sementara impor dapat ditekan salah satunya oleh kebijakan mandatori biodiesel B30, yaitu kewajiban penggunaan

Kedua, penghematan devisa impor dari kebijakan mandatori biodiesel B30. Per 2020, pemerintah mewajibkan penggunaan campuran biodiesel sebesar 30% dalam bahan bakar yang digunakan industri, transportasi, pembangkit listrik serta bahan bakar PSO usaha mikro dan pelayanan publik.

Pada 2020, program mandatori biodiesel 30 persen menyerap 8,46 juta kiloliter biodiesel, yang berarti mengurangi konsumsi BBM impor dengan besaran kurang lebih serupa. Dampaknya adalah penghematan devisa impor solar sebesar 2,60 miliar dolar AS.

Oleh penghematan ini, desifit neraca perdagangan migas bisa ditekan dari 8,50 miliar (tanpa program B30) menjadi -5,90 miliar dolar AS.


Sumber: Investor.id (6/2/2021), “Sawit Setor Devisa US$ 25,6 M, Terbesar Selama 20 Tahun Terakhir”.

About Post Author

Om Gege

Kuli, tetapi (justru karena itu) sombongnya minta ampun. Sebab oleh keringat kamilah peradaban berderap.