Bikini, Bom Atom, Kaos Palu Arit dan Pemberontakan Perempuan

Perjuangan Bikini Melewati Pro-Kontra Sepanjang Sejarah

Meski saat ini hampir semua perempuan, terutama perempuan kelas menengah urban memiliki beberapa potong bikini dalam lemari pakaiannya, perjuangan bikini menjadi salah satu item wajib pop culture tidak mudah.

Di era 1950an negara-negara berpenduduk mayoritas Katolik melarang penggunaan bikini. Demikian pula di pantai-pantai Eropa dan Mediteriania.

Tentu saja para pendukung bikini melakukan perlawanan. Selebriti Hollywood, Brigitte Bardot, beraksi kenakan bikini di seluruh pantai Selatan Prancis. Marilyn Monroe dan Esther Williams beraksi serupa di Amerika Serikat.

Bikini bahkan dilarang digunakan dalam konteks kecantikan Miss World – bandingkan dengan kondisi saat ini – dan dilawan oleh sejumlah majalah mode terkemuka.

Majalah Vogue edisi 1954 menyatakan penolakannya terhadap bikini melalui artikel foto pakaian renang berbalut jaket, dengan tag “still another way of looking dressed, not undressed.”

Brigitte Bardot dalam swimsuit, Cannes, Pantai Selatan Prancis, 1957 [Elle.com]

Majalah mode terkemuka lain, Modern Girl pada 1957 menyatakan,

“It is hardly necessary to waste words over the so-called bikini, since it is inconceivable that any girl with tact and decency would ever wear such a thing.”

Arah angin mulai berubah pada 1960an. Peluncuran lagu Brian Hyland, “Itsy Bitsy Teenie Weenie Yellow Polkadot Bikini” dan scene film James Bond, kemunculan Ursula Andress dalam balutan bikini putih keluar dari pantai, menjadi milestone kemenangan bikini.

Sepanjang 1970-1980an, bikini tak terbendung.

Tetapi arah angin kembali berubah pada 1990an hingga 2000an. Kalangan feminis mulai mengkritik bikini sebagai objektivikasi terhadap kaum perempuan.

Protes terhadap bikini juga dilancarkan sejumlah perempuan atlet. Mereka merasa tak nyaman harus mengenakan bikini dalam even olahraga. Mereka melihat bikini sebagai ofensif dan melecehkan martabat perempuan.

Di Indonesia bikini selalu kontroversial dan memantik polemik luas.

Di negara ini banyak orang mencari makan dengan mempertontonkan kesalehan yang sering cuma fatamorgana. Kesalehan menjadi komoditas bisnis ‘kekuatan penekan’ dalam politik.

Orang saleh jenis ini tidak merisaukan pemerkosaan, korupsi, perampasan tanah rakyat, kebijakan upah murah, atau bentuk-bentuk kejahatan lain. Top two musuh utama orang-orang saleh hasil pencitraan ini adalah bikini dan kaos bergambar palu arit.

Sangat disayangkan, sejumlah orang saleh pengutuk bikini ternyata dalam kehidupan dunia belakang layar berperilaku pemuja bikini. Smartphone mereka berisi rekaman percakapan mesum dengan selingkuhan. Laptop mereka dipenuhi gambar telanjang dan video mesum.

Hmmm. Tetapi bayangkan jika suatu ketika instagram atau facebook beredar foto artis kenakan bikini bergambar palu – arit. Bisa-bisa jadi bakal ada aksi demonstrasi berjilid-jilid yang mampu robohkan Monas.

Hahhhhh.

Happy birth day ke-73, Bikini.

Catatan dan Sitasi.

Leave a Reply