Mengapa Ancaman Reshuffle ‘Efektif” Bikin Becus Menteri Kabinet Jokowi?

Defisit Politik Gagasan, Surplus Politik Karir

Para tokoh bangsa di masa kolonial hingga dua dekade awal kemerdekaan Indonesia berpolitik karena memiliki gagasan tentang ideal kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan budaya Indonesia. Mereka berpolitik sebagai jalan memperjuangkan pewujudan cita-cita kebangsaan tersebut.

Untuk mewujudkan cita-cita kebangsaan tersebut, mereka tahu rakyat harus pula dilibatkan. Agar bisa terlibat, rakyat perlu memiliki gagasan yang sama, sehingga dengan itu terlibat aktif memperjuangkan pewujudannya.

Inilah yang Bung Karno sebut sebagai machstvorming, sebuah upaya membentuk kekuatan kumpulan massa rakyat yang sadar dan terlibat aktif memperjuangkan gagasan masa depan Indonesia yang dicita-citakan bersama.

Demi keterlibatan rakyat inilah, para pemimpin zaman dulu juga merupakan penulis besar dan orator ulung. Mereka menulis buku-buku dan berbicara dalam vergadering, ‘rapat-rapat umum’ serta mengorganisir pergerakan.

Meski disatukan benang merah kemerdekaan, kemandirian, kesejahteraan, dan keadilan Indonesia, gagasan-gagasan mereka cenderung berbeda dan bertentangan. Mereka mengkontestasikannya di hadapan rakyat., adu dukungan rakyat. Pertarungan gagasan menjadi wajah utama politik di masa itu.

Ketika Orde Baru berkuasa, rakyat Indonesia dilarang memiliki gagasan besar, dilarang membangun imajinasi kebangsaan. Rakyat dan para politisi dipaksa untuk menerima begitu saja desain tujuan, arah dan strategi pembangunan yang sudah dirancang para teknokrat Orba.

Semenjak itu, para politisi mencari selamat diri. Yang membangkang, yang mencoba membangun gagasan di luar imajinasi Orde Baru akan berakhir di penjara, bahkan berkalang tanah.

Ketika reformasi 1998 akhirnya menumbangkan kekuasaan Orde Baru, rantai kebebasan berpikir tidak sepenuhnya putus. Gagasan-gagasan besar yang dinilai subversif mash dilarang. Bahkan buku-buku Sukarno di-sweeping tentara dan massa preman bayaran.

Apalagi, para elit politik sudah terlanjur pragmatis. Demokrasi era multi-partai jadinya cuma berujung pada terciptanya karir baru: politisi profesional.

Karena melihat politik sebagai karir – bukannya ajang memperjuangkan gagasan kebangsaan – para politisi masa kini hanya berpikir tentang popularitas, elektabilitas, serta meraih atau mempertahankan posisi mereka dalam lembaga-lembaga kekuasaan.

Jangan heran jika panggung politik masa kini penuh tontonan aksi sensasional, lomba trending di media sosial, kompetisi muncul di layar tv. Politisi merangkap selebriti media sosial; berlomba-lomba merebut perhatian publik melalui kicauan twitter, status facebook, atau tayangan youtube dengan pernyataan-pernyataan receh namun kontroversial.

Tidak ada lagi perdebatan bernas gagasan-gagasan besar tentang ideal-ideal Indonesia masa depan.


Next page: “Dampak Berpolitik Tanpa Gagasan Bagi Watak Kejar Selamat Karir

About Post Author

Om Gege

Kuli, tetapi (justru karena itu) sombongnya minta ampun. Sebab oleh keringat kamilah peradaban berderap.

Leave a Reply