Mengapa Ancaman Reshuffle ‘Efektif” Bikin Becus Menteri Kabinet Jokowi?

Pasca-heboh video viral Jokowi ancam reshuffle menteri kabinetnya, Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko bicara dalam sebuah diskusi daring, “… perkembangan cukup signifikan setelah dicambuk kemarin. Pasti semangat. Yang tadinya kecepatan 10 mungkin sekarang sudah 100.”[1]

Pernyataan Pak Moeldoko mau tak mau menyebabkan saya berkesimpulan, menteri-menteri kabinet Jokowi menjadi lebih becus bekerja karena takut kena reshuffle.

Bekerja karena takut tentu bukan hal terpuji. Alangkah lebih baiknya jika prestasi kerja para menteri dilatarbelakangi komitmen dan pengetahuan mereka atas tanggungjawab yang diemban, bukan karena takut kena reshuffle.

Tetapi mau bagaimana lagi? Demikianlah kenyataan elit-elit di negeri ini.

Hal ini memicu pertanyaan di kepala saya? Mengapa ancaman reshuffle menjadi alat yang efektif untuk memaksa peningkatan kinerja menteri-menteri? Mengapa ketakutan kehilangan jabatan — bukannya komitmen dan tanggungjawab — yang bisa jadi pelecut kinerja mereka?

Dalam permenungan saya ada dua hal yang boleh jadi berperan membentuk karakter ‘kerja-karena-takut’. Pertama adalah pendidikan semasa kecil dan kebiasan di tengah masyarakat. Kedua, faktor politik karir, lawan dari politik gagasan.

Untuk faktor pertama, lihatlah bagaimana para orang tua meraih kepatuhan anaknya.

“Nanti telat, lho. Kamu akan dimarahi guru,” teriakan lazim ibu-ibu kepada anak-anak yang tidak cepat-cepat menghabiskan sarapan sementara jam masuk kelas sebentar lagi.

“Berdoa dulu sebelum makan supaya jangan keselek,” bukannya “Berdoa sebelum makan itu penting agar kamu selalu bersyukur atas rejeki yang ada.”

Atau lihat saja bagaimana masyarakat mematuhi aturan lalulintas. “Jangan lupa pakai helem, banyak polisi gelar tilang di perempatan sana.” Padahal yang seharusnya pakai helem untuk berjaga-jaga agar jika kecelakaan, kepala lebih terlindungi dari benturan.

Kini, setelah sudah jadi pejabat besar pun, para menteri harus diingatkan dengan cara ditakut-takuti. “Ayo, kerja lebih serius. Kalau tidak kamu kena reshuffle.”

Tetapi saya kira faktor lebih dominan adalah yang kedua, yaitu sudah ditinggalkannya politik gagasan atau politik cita-cita. Para politisi masa kini, termasuk yang mengepalai kementerian cenderung berpolitik sebagai karir.


Next Page: “Defisit Politik Gagasan, Surplus Politik Karir

Leave a Reply