Amien Rais, Politikus Kawakan Kedua yang “Finally Fade Away” dari Rumah Sendiri

Old soldiers never die,” ucap seorang politikus kawakan dalam sebuah perayaan Natal bersama masyarakat etnis saya beberapa bulan sebelum gong perhelatan Pilgub NTT ditabuh, beberapa tahun silam. Ia katakan itu untuk memuji dirinya yang masih diminta memberikan nasihat tentang bagaimana orang-orang dari etnis saya harus memberikan dukungan politik dalam pilkada Kota Kupang dan Pilgub NTT.

Si politisi kawakan ini, seorang mantan bupati yang sangat populer di eranya, rupanya salah memahami ujar-ujaran itu. Ia menyangka, kalimat old soldiers never die itu bermakna pujian atas tokoh-tokoh tua yang tak lekang zaman. Padahal makna aslinya justru sebaliknya.

Itu kesalahan yang jamak, bisa dimaklumi, sebab sudah bermula ketika Douglas McArthur–jenderal besar dan pahlawan perang Amerika Serikat yang dipecat Presiden Truman–menggunakan kalimat itu sebagai penutup pidatonya di hadapan Kongres AS, 19 April 1951.

“… but I still remember the refrain of one of the most popular barrack ballads of that day which proclaimed most proudly that “old soldiers never die; they just fade away.”

And like the old soldier of that ballad, I now close my military career and just fade away, an old soldier who tried to do his duty as God gave him the light to see that duty.” (1)

Aslinya, ujar-ujaran itu berasal dari lagu para serdadu Inggris. Mereka menciptakannya dengan mengubah syair lagu rohani. Sejatinya kalimat yang berbunyi lengkap “old soldiers never die; they just  fade away” itu adalah satire tentang kehidupan para serdadu. 

Mereka yang telah memenangkan perang, di usia tua kerap terlupakan jasanya. Jadi mereka hilang bukan karena mati melainkan memudar sebab dilupakan. Periksa saja di kamus frasa dan ujar-ujaran yang proper, akan Anda temukan seperti yang saya bilang.

Penyimpangan pemaknaan ini jamak di kalangan militer Indonesia. Itu tercermin dari pernyataan-pernyataan Pak Hendro Priyono dalam wawancaranya dengan sebuah media daring.(2)

Mungkin hanya Pak Prabowo jenderal yang menyadari kekeliruan pemaknaan ujar-ujaran itu. Karena itu ketika memuji Pak Ryamizard yang ia gantikan jabatannya, Pak Prabowo mengganti bunyi kaliat itu. Ia katakan, “Kalau orang Amerika, jenderal Amerika mengatakan, Old soldiers never die, they just fade away. Tapi kalau di Asia no. Old soldiers never die, and they never fade away until they are call by the almighty Lord.”(3)

Saya teringat ujar-ujaran ini gara-gara celutukan seorang kawan saat membaca berita tentang kongres PAN. “Akhirnya old soldiers never die tidak berlaku di PAN.”

Ia berkomentar  tentang kekalahan Pak Amien Rais, atau tepatnya kekalahanan calon ketua umum yang Pak Amien dukung. Yang jadi pemenang adalah Pak Zulkifli Hasan, ketum petahana yang semenjak pilpres lalu banyak berseberangan sikap politik dengan Pak Amien Rais.

“Justru Amien Rais tidak mati. Ia fade away,” kata saya merespon celutukan si kawan.

Kemenangan Pak Zulhas (331 suara) atas calon yang didukung Pak Amien Rais, Pak Mulfachri Harahap (225 suara) boleh jadi petunjuk kuat memudarnya pamor dan pengaruh Pak Amien Rais di rumah politiknya sendiri, PAN, rumah yang ia bangun sejak fondasinya. 

Kompasianer Arnold Adu membahas dan mengistilahkannya dengan tepat: cahaya Amien Rais kian redup—Admin Kompasiana tampaknya sedang lelah, tidak mengedit judul artikel itu paripurna sehingga awalan me pada meredup masih digunakan serentak dengan kata  kian.

Redupnya masa depan Pak Amien Rais di PAN kian terang-berderang saat Pak Zulkifli lekas-lekas menyampaikan dalam pidato  kemenangannya, akan menjadikan Pak Hatta Rajasa sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP), pos kehormatan yang selama ini diduduki Amien Rais.(4) Tetapi saya kira Pak Amien Rais tidak perlu berkecil hati. Yang pertama karena ia bukan dedengkot parpol pertama yang kalah di rumah sendiri. Selusin tahun silam, tokoh sekaliber Pak Amien, Gus Dur juga kalah di rumah sendiri.

Banyak sekali kemiripan garis sejarah politik Amien Rais dan Gus Dur, dua seteru bebuyutan ini.

Keduanya sama-sama penggagas parpol. Gus Dur mendirikan PKB, Pak Amien  mendirikan PAN. Yang melawan dan mengalahkan mereka sama-sama orang dekat, punya hubungan keluarga. Cak Imin adalah keponakan Gus Dur; Pak Zulhas adalah besan Pak Amien Rais. 

Biang perseturuan dua pendiri parpol ini dengan penerusnya juga sama. Dahulu Gus Dur memecat Pak Muhaimmin karena menilai keponakannya itu bermain mata dengan istana. Serupa pula, Pak Amien Rais kerab berselisih kata dan langkah politik dengan Pak Zulhas juga dalam urusan sikap terhadap kubu pemenang pilpres.

Begitu pula kekalahan keduanya diwarnai konflik hebat. Bedanya, PKB sampai pecah dan memunculkan dua kepengurusan dari dua kongres, sementara PAN—setidaknya hingga saat ini–hanya sampai lempar-lemparan kursi, sama kualitasnya dengan suporter bola.

Alasan lain yang membuat Pak Amies Rais sepatutnya tidak bersedih hati adalah kekelahan dirinya berpotensi menjadi berkat tersendiri bagi PAN, bagi kemajuan partai itu.

Dalam teori organisasi, salah satu fase kritis adalah ketika organisasi kehilangan tokoh-tokoh pendirinya. Pada titik ini, organisasi berada di persimpangan jalan perkembangannya, apakah akan bubar oleh karena kehilangan inspirator dan penyatu, atau sebaliknya bertumbuh menjadi organisasi modern yang digerakkan dan disatukan oleh kesadaran anggota akan cita-cita organisasi. Organisasi yang berhasil melewati fase ini sering bertumbuh baik, melaju pesat, menjadi sangat kuat dan bertahan lama.

Nah, bukankah jika PAN bertumbuh baik kelak di kemudian hari, Pak Amies Rais sebagai pendiri yang bakal dikenang pula jasa-jasanya?

Jadi, daripada kelamaan kecewa atau malah mengorganizir kepengurusan tandingan, hal paling baik yang sebaiknya Pak Amien lakukan adalah mengunduh lagu Virgoun lalu dengarkan berulang-ulang, “Selalu ada kata selamat dalam setiap kata selamat tinggal.”

Happy fade away, Pak Amien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social profiles