Bujang Parewa itu Agus Jabo

Sejarah sebagai kisah yang hidup dalam generasi pascaperistiwa adalah adalah produk kekuasaan. Ia kisah para pemenang, orang-orang yang memiliki sumber daya—apapun bentuknya—untuk menjadikan narasi versinya menghegemoni.

[Penyesuaian dari artikel yang telah tayang 2 tahun lalu di Kompasiana]

Banyak penyimpangan dalam sejarah sebagai kisah yang dituturkan (lisan dan tulisan). Yang paling jamak adalah glorifikasi terhadap orang-orang tertentu. Sejarah menjadi personifikasi (kadang manipulatif) dari kisah yang seharusnya tentang banyak orang. 

Padahal seringkali si glorified person  hanya berperan kecil saja namun meraih kemasyuran dengan mendompleng peran khalayak. Jangan heran jika kemudian para belia memahami sejarah sebagai cerita tentang orang-orang besar. Mungkin ini sebabnya sejarah disebut hi(s)story.

Banyak nama-nama besar kalangan elit pdan kelas menengah menikmati ruang demokrasi (popularitas dan macam-macam jabatan publik) yang dibuka dengan berdarah-darah oleh pemuda dan rakyat yang sebagian besar di antara mereka tak sekalipun namanya terucap di layar tv atau pernyataannya dikutip surat kabar.

Orang-orang itu bahkan rela namanya tak dikenal. Hingga kini banyak di antara mereka yang hanya saya tahu nama samarannya, nama koordinasi mereka semasa perjuangan harus dilakukan klandestin.

Adalah baik mendudukkan kembali kisah-kisah masa lampau dengan benar, yaitu sebagai ourstory (atau theirstory dari sudut pandang generasi pascaperistiwa seperti saya). Tetapi patut pula disadari, itu projek raksasa yang butuh sumber daya tidak kecil, mushkil.

Karena itu, jalan lebih masuk akal menuju ourstory, mau tidak mau, adalah dengan kembali mengangkat kisah-kisah subjektif, ‘history‘. Bedanya, tiap-tiap subjek didorong untuk menceritakan versinya. Jika sebanyak-banyaknya subjek bercerita versinya secara terpisah-pisah, sejarah akan menjadi ‘ourstory/theirstory’.

Dengan jalan itu para pelaku sejarah adalah orang-orang buta dan gajah, parable dalam kitab suci Udana dan kotbah Ramakrisna yang dituturkan kembali Sanai, Rumi, pun Tolstoy. Biarkan orang-orang buta itu menuturkan versinya, pengalamannya yang terbatas bersama bagian-bagian tubuh gajah.

Tak mengapa jika kumpulan kisah yang lahir akan bentrok di sana sini. Mengisahkan memang hahikatnya merekonstruksi peristiwa yang objektif dengan kacamata subjektif. Ada subjektivitas ketika peristiwa di-decoding ke dalam pemaknaan, kesadaran dan memori pelaku. Subjektivitas kembali bermain saat makna itu di-encoding sebagai kisah yang dituturkan kepada khalayak.

Demikianlah hakikat kenyataan itu. Sehebat apapun metodologi dikembangkan, realita akan selalu lebih dalam, besar, dan luas dari yang mampu didekati  ilmu pengetahuan. Peristiwa sejarah pun demikian adanya. Biarkan versi-versi mendapat tempatnya masing-masing. Toh simfoni itu lahir  oleh keberagaman nada. Yang tidak tepat adalah ketika satu versi—apalagi yang bias glorifikasi personal—membisukan yang lainnya.

Budiman Sudjatmiko telah memulainya dengan memoar “Anak-anak Revolusi”. Tetapi Budiman baru seseorang dari sekian banyak orang buta yang menyentuh gajah sejarah perintisan gerakan reformasi 1998. “Anak-anak Revolusi” adalah Budiman’s story.

Yang dibutuhkan agar sejarah gerakan reformasi tidak tereduksi menjadi personifikasi, glorifikasi, bukanlah karya mahadetil dan komprehensif yang memasukkan semua pelaku. Karya yang demikian hanya akan menjadi kumpulan daftar nama dan tanggal yang kering atau berjilid-jilid kitab yang kelewat mahal untuk diproduksi.

Jalan yang masuk akal adalah dengan menggali kisah dari “orang-orang buta” lain yang bersentuhan langsung dengan tubuh gajah. Dengan memberikan kesempatan mereka menceritakan rupa gajah seturut porsi pengalaman mereka, publik, kita yang lebih dari buta dan tak pula bersentuhan dengan gajah, akan memiliki gambaran rupa gajah dari kisah-kisah itu.

Penyair, penulis, dan sejarahwan Wenry Wanhar melakukannya dengan baik melalui Lelaki di Tengah Hujan, sebuah novel sejarah terbitan Milestone, 2019.

Nezar Patria, chief editor The Jakarta Post, pelaku sejarah yang namanya (dimodifikasi sedikit dalam novel) berkomentar, “Wenry menghadirkan kembali fragmen sejarah Gerakan Mahasiswa 1990-an dengan detail yang berada di antara fiksi dan fakta. Kita diajak masuk ke duia gerakan pro-demokrasi yang penuh risiko, dan orang-orang muda yang memilih melawan rezim dictator itu untuk Indonesia yang lebih baik.”

Saya sepakat dengan Nezar. “Fragmen sejarah… detail yang berada di antara fiksi dan fakta” adalah frasa dan klausa kunci dalam memahami novel sejarah ini.

Lelaki di Tengah Hujan adalah fragmen sejarah. Ia hanya kisah di sebagian waktu dan tempat dari samudra tempus dan locus gerakan mahasiswa dan rakyat 1990an, fondasi bagi gerakan reformasi 1998. Tempos dan locus itu dipersempit lagi ke dalam cakrawala pengalaman dan ingatan tokoh utamanya, Bujang Parewa.

Lelaki di Tengah Hujan adalah “detail yang berada di antara fiksi dan fakta.” Ia fakta. Peristiwa-peristiwa di dalamnya sungguh terjadi. Tokoh-tokoh di dalamnya bahkan setahu saya seluruhnya orang-orang yang nyata. Namun sebagai novel, Lelaki di Tengah Hujan tak lepas dari anasir-anasir fiksi.

Ia fiksi bukan cuma karena sedikit butuh bumbu untuk menghidupkan kisah yang menarik. Ia fiksi sebab setiap penggalian sejarah pada hakikatnya merupakan rekonstruksi pengalaman masa lampau, menggali kembali fakta-fakta dari ingatan pelaku.

Dalam memori, fakta-fakta sudah bercampur dengan persepsi, bahkan dalam kadar tertentu sangat mungkin imajinasi. Saya yakin tak ada upaya penggalian sejarah yang bebas dari ini. Bahkan sekalipun sumber utama sejarah itu—di masa depan mungkin akan seperti ini—adalah kamera CCTV yang bebas nilai dan persepsi.

Maka meski mengandung unsur fiksi, Lelaki di Tengah Hujan tetap layak menjadi referensi terhadap fragmen sejarah perintisan gerakan reformasi.

Tokoh-tokoh di dalam Lelaki di Tengah Hujan ada yang terang-benderang ditulis nama aslinya; banyak yang sedikit disamarkan dengan perubahan satu-dua huruf dalam nama; sebagian dengan nama yang asing.

Mayoritas tokoh-tokoh ini masih hidup, kecuali Joni Trotoar, nama yang dipakai untuk salah seorang tokoh terpenting era perintisan gerakan mahasiswa, Andi Munajat. Andi meninggal dalam kecelakaan di kota kelahirannnya di Kalimantan. Koran lokal memberitakan perisitwa itu dalam penggalan kecil berita. Ia hanya disebut sebagai pekerja LSM, bukan seorang yang tanpa peran aktifnya belum tentu reformasi 1998 terjadi.

Sebagian tokoh-tokoh masih aktif berjuang untuk rakyat, meski tak lagi satu gerak langkah dalam pilihan strategi dan taktik, terutama dalam berposisi blocking politics dalam dua pilpres terakhir. Ada yang jadi anggota DPR, DPRD, professional, dan lain-lain lapangan. Ada yang masih bersentuhan dengan gerakan, dalam kadar dan peran yang mungkin tidak mereka bayangkan semasa tahun-tahun menyerempet bahaya dahulu. Ada yang sama sekali sudah lepas pisah.

Dalam Lelaki di Tengah Hujan saya mencium aroma kuat upaya sadar Wenry untuk mengangkat narasi versi “orang-orang buta yang bersentuhan langsung dengan gajah” agar generasi masa kini tidak memahami sejarah perintisan gerakan sebagai semata-mata kisah Budiman Sudjatmiko, Andi Arief  dan nama beken lain yang kerab muncul di layar tv atau linimasa akun twitter kita; atau mereka yang telah hilang selamanya seperti Wiji Thukul.

Banyak orang tak mengenal Andi Munajat. Banyak yang tak tahu John Soni Tobing meski “darah juang” lagu ciptaannya di kalangan aktivis lebih popular dari Indonesia Raya. Juga banyak yang tak tahu Bujang Parewa meski orang-orang mungkin pernah mendengar peristiwa Ledakan di Rumah Susun Tanah Tinggi, salah satu momentum penting gerakan reformasi.

Bujang Parewa, tokoh utama dalam Lelaki di Tengah Hujan. Mungkin memang ini saat baginya untuk terungkap lebih luas bagi publik. Ia adalah Agus Jabo, Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik dalam satu dekade terakhir ini.

Baru-baru ini, muncul desakan kuat dari para aktivis agar Agus Jabo turut dimasukkan dalam daftar 24 tokoh harapan masa depan, sebuah list survey yang ditayangkan di Rakyat Merdeka Online.

Para aktivis menilai daftar nama yang disusun Denny J.A., konsultan politik yang jasanya sering dipakai Istana, hanya berisi aktor-aktor yang berkelindan sepak terjang politiknya dengan kepentingan oligark. Padahal oligarki adalah problem pokok bangsa ini, yang menghambat gerak maju bangsa Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur.

Saya angkat lagi artikel lama ini – yang sudah tayang di platform lain— dan menyesuaikan isinya, sebagai bentuk dukungan saya terhadap aspirasi para aktivis agar Jabo turut masuk dalam daftar tokoh di Rakyat Merdeka Online.

Agus Jabo adalah representasi kaum yang menghendaki perubahan mendasar haluan politik dan ekonomi Indonesia. Sudah saatnya kekuasaan negeri ini direbut kembali oleh kaum 99 persen, mayoritas rakyat negeri, dari dominasi 1 persen elit-elit ekonomi terkayanya.***