4 Level Petani dalam Pengembangan Rantai Nilai

Value Chain Development, ‘pengembangan rantai nilai’ adalah salah satu pendekatan dalam peningkatan kesejahteraan petani.

Banyak yang menyangka pendekatan ini semata-mata mengutak-atik rantai nilai melalui introdusir supporting system baru; pengembangan model bisnis simbiosis mutualisme antar-aktor  yang lebih pro-petani; atau pemangkasan rantai suplai agar efisien dan lebih menguntungkan petani.

Padahal, hemat saya, faktor terpenting dalam pengembangan rantai nilai adalah peningkatan kapasitas petani yang selanjutnya berdampak peningkatan peran dan kontrol mereka dalam rantai nilai. 

Peningkatan kapasitas, bahkan tanpa peningkatan peran dan kontrol sekalipun, bisa meningkatkan porsi pendapatan petani dari setiap tahap penciptaan nilai, sejak di tangan produsen sejati hingga tiba ke tangan konsumen akhir.

Karena itu, memahami posisi petani dalam rantai nilai yang existing adalah salah satu komponen terpenting pengembangan rantai nilai.

  • Petani sebagai chain actors
  • Petani sebagai chain partner
    • Tentang Tengkulak
    • Chain Partner Petani dengan Komoditas Tunggal
    • Chain Partners antarpetani beda komoditas
    • Chain partner antarpetani dengan pembagian peran
    • Chain partner antara petani dan pelaku di mata rantai lebih hulu (penyedia input)
    • Chain partner antara petani dengan pelaku di mata rantai lebih hilir (pedagang)
  • Menjadi Petani Kaya Sebagai Chain Activity Integrators

Kiranya ada empat level posisi petani dalam pengembangan rantai nilai, yaitu chain actors, chain partners, chain activity integrators, dan chain co-owners

Istilah-istilah ini saya pinjam dari buku “Chain empowerment: Supporting African farmers to develop markets” yang diterbitkan KIT, Faida MaLi and IIRR pada 2006 silam.

Pertama, petani sebagai chain actors.

Chain actor adalah posisi terlemah petani. Umumnya petani Indonesia, terutama rumah tangga petani kecil subsisten berada di posisi ini.

Sebagai chain actor, petani nyaris tidak punya kontrol sama sekali terhadap rantai nilai, memiliki informasi yang sangat terbatas tentang pasar, dan menjadi price taker yang pasrah.

Seringkali para organizer tani atau lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pemberdayaan petani memecahkan problem petani chain actor dengan buru-buru mendorong integrasi horizontal melalui pembentukan kelompok tani atau koperasi produsen.

Atau mengembangkan integrasi vertikal dengan menumpuk banyak mata rantai ke tangan petani; atau mengadvokasi business enabling environment yang supportif terhadap petani.

Misalnya dengan Perda Harga Pokok Pembelian di tingkat petani. Pengembangan kapasitas petani selaku chain actor sering dilupakan.

Padahal, sebelum integrasi horizontal dan vertikal berhasil, para pendamping bisa mengembangkan kapasitas individual petani chain actor yang berdampak peningkatan pendapatan petani.

Saya ambil contoh kasus petani vanili di Alor. Suatu ketika saya mendapat kesempatan mempelajari rantai nilai komoditi vanili di sana. Thank’s to teman-teman WVI.

Pulau atau Kabupaten Alor adalah salah satu sentra produksi vanili di NTT. Dari sisi produksi, pada 2016 Alor menghasilkan 64 ton vanili basah, berada di urutan keempat kabupaten penghasil vanili di NTT (BPS.go.id. “Produksi Vanili Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2004-2016”).

Vanili di Alor terkenal karena kadar vanilin yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari vanili Madagaskar. Ini membuat para pedagang membeli vanili dari Alor sebagai bahan campuran vanili dari tempat lain agar memenuhi SNI atau standar ekspor.

Sayangnya, ketika harga vanili sedang baik-baiknya—pada 2018 harga polong kering Rp 7 jutaan per kg dan harga polong basah Rp 850.000 per kg–para petani di Alor tidak mendapat manfaat optimal.

Problemnya bukan pada harga jual yang rendah. Dua perusahan dari Jawa membeli vanili basah Alor Rp 700ribu hingga Rp 850ribu per kg di saat yang sama mereka membeli vanili dari kabupaten-kabupaten di Flores daratan hanya Rp 300ribu per kg.

Masalahnya produksi dan produktivitas vanili di Alor jatuh.

Dalam studi Handi Supriadi, N.R. Ahmadi, Dibyo Pranowo dan M. Hadad di tahun 2005, produktivitas tanaman vanili di Alor mencapai 1,20-1,49 kg per pohon. Dengan jarak tanam 1.5 x 2 meter, optimal bisa dihasilkan lebih dari 4 ton vanili per hektar lahan.

Dalam penelitian Handi Supriadi, dkk di tahun 2009, vanili di Alor, terutama di Kelurahan Kelaisi Timur bahkan mencapai hampir 5 ton per hektar.

Pada Mei 2019, saya menemukan kenyataan memilukan. Di desa-desa sentra vanili, produksi hanya 70-440 kg per ha, sementara produktivitas per pokok vanili cuma berkisar seperempat kilogram.

Penyebabnya adalah rendahnya pengetahuan dan kedisplinan petani terhadap praktik budidaya yang baik dan benar (Good Agricultural Practices, GAP).

Vanili di sentra-sentra produksi tua di Alor ditanam di bawah naungan kopi, kemiri, dan tanaman lain. Ketika tanaman penaung kian tua, kanopi yang terbentuk dari rimbunan dahan dan daunnya kian tebal dan luas. 

Banyak petani tidak melakukan pemangkasan rutin karena khawatir batang pohon pelindung merusak pokok vanili. Hasilnya, Fusarium batatatis menemukan lingkungan kondusif bagi tumbuh kembangnya. Busuk Batang Vanili pun merajalela.

Sejumlah petani melakukan pemangkasan tanaman pelindung semata-mata untuk menghindari kebun terlalu lembab. Mereka tidak memahami peran intensitas cahaya matahari terhadap fase pertumbuhan generatif vanili. Maka banyak pemangkasan dilakukan justru setelah musim pembungaan. Dampaknya pembungaan tidak optimal, yang berujung pada rendahnya produktivitas per pohon.

Demikian pula pemangkasan sulur vanili. Sejumlah petani  melakukan pemangkasan hanya berdasarkan pertimbangan agar panjang sulur tidak mencapai 5 meter. 

Sedikit saja yang memahami hubungan antara pemangkasan sulur dan karakter pembungaan vanili; yaitu bahwa pemangkasan sulur sebaiknya dilakukan terhadap ruas-ruas yang telah berbunga atau berbuah sebab setiap ruas hanya berbunga sekali. 

Nah, dalam konteks ini, peningkatan kepasitas petani melalui penyuluhan GAP bisa berdampak pada peningkatan pendapatan mereka. Setidaknya jika produktivitas per pokok dapat dikembalikan ke era jayanya, peningkatan pendapatan petani vanili di Alor bisa mencapai 4 kali lipat.

Artinya, tanpa utak-atik posisi petani dalam rantai nilai; tanpa  introdusir supporting system baru; tanpa integrasi horizontal pun vertikal, petani yang berstatus chain actor bisa ditingkatkan pendapatannya. Hal ini bisa dilakukan lewat pola pemberdayaan tradisional yang biasa dilakukan pemerintah atau LSM.

Pentingnya pendekatan Value Chain Development dalam konteks ini adalah memetakan bentuk layanan yang bisa diberikan mitra bisnis petani demi -sebagai gantinya- memperoleh peningkatan volume komoditas yang petani jual kepada mereka. 

Selain itu, peningkatan kapasitas produksi adalah salah satu jalan kian mengintegrasikan petani ke dalam rantai nilai; membuat posisi individual mereka kian penting, sekalipun hanya sebagai chain actor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social profiles